Hasil banding ini diumumkan ketika sekretaris jenderal UEFA, Gianni Infantino, dan pemimpin sepakbola, Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, meruncingkan rivalitas mereka untuk mengambil alih posisi pemimpin di badan sepakbola dunia yang dihantam skandal suap, dalam pengambilan suara pada Jumat (26/02).
Skors terhadap Blatter, presiden FIFA selama 17 tahun, dan presiden UEFA Platini, dikurangi dari delapan tahun menjadi enam tahun oleh komite banding.
Keduanya dinyatakan bersalah akibat adanya konflik kepentingan, ketika Blatter menerima pembayaran senilai dua juta euro dari Platini pada 2011 untuk pekerjaan konsultasi tanpa kontrak yang telah selesai satu dekade sebelumnya.
Legenda sepakbola Prancis, Platini, difavoritkan untuk mengambil alih jabatan Blatter, namun skors yang dijatuhkan menghancurkan harapannya.
"Banding Tuan Platini dan Tuan Blatter telah diselesaikan," kata komite etik dalam pernyataannya.
Namun, pihaknya menentukan bahwa pengadilan etika FIFA tidak memperhitungkan "faktor-faktor pengurang yang kuat" ketika menentukan sanksi delapan tahun.
"Komite banding mempertimbangkan bahwa aktivitas-aktivitas Tuan Platini dan Tuan Blatter dan jasa-jasa yang telah mereka berikan kepada FIFA, UEFA, dan sepakbola secara umum selama bertahun-tahun semestinya menjadi pengakuan yang layak sebagai faktor pengurang."
Polisi menyerbu kongres FIFA pada Mei silam sebelum Blatter terpilih untuk masa jabatan kelimanya. Ia mengumumkan bahwa dirinya akan mengundurkan diri empat hari kemudian.
Kini 39 pejabat dan eksekutif sepakbola menghadapi dakwaan di AS terkait lebih dari 200 juta dolar dalam pembayaran penyuapan untuk kesepakatan-kesepakatan sepakbola.

Sepp Blatter (kiri) dan Michel Platini (kanan) saling berjabat tangan di salah satu acara FIFA.
Dengan absennya Platini, Infantino dan Salman, presiden Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) memimpin lima kandidat pada persaingan untuk menjadi presiden baru.
Pertarungan terlihat begitu ketat pada fase-fase akhir. Namun, pemilihan menghadirkan drama baru ketika Pangeran Ali bin Al Hussein menemui Pengadilan Arbitrase untuk Olahraga (CAS) pada Senin (22/02), dalam upayanya meminta FIFA menerapkan bilik pengambilan suara yang transparan.