Perempuan di Sepakbola, antara Kesetaraan dan Ancaman Budaya Seksisme

Selasa, 8 Maret 2016 20:06 WIB
Editor: Ramadhan
 Copyright:
Terjadi Setiap Saat

Keterlibatan perempuan dalam sepakbola tak selamanya berjalan mulus sesuai dengan apa yang diinginkan. Perempuan-perempuan yang terlibat di dunia sepakbola justru menghadapi tingkat pelecehan yang mengejutkan.

Hampir setengah dari mereka mempertanyakan dan mengidentifikasi diri mereka sebagai korban seksisme.

Menurut sebuah survei yang dilakukan untuk Hari Perempuan Internasional, lebih dari 2 kali lipat perempuan telah dilecehkan secara seksual dan hampir 3 kali lebih banyak dari mereka ditolak aksesnya atas dasar jenis kelamin dari 2 tahun lalu.

Berdasarkan rilis Women In Football bahwa tak ada kemajuan yang signifikan dari penelitian 2 tahun yang lalu pada 2014. Temuan 2 tahun lalu mengungkapkan bahwa 7% perempuan dalam sepakbola diklaim merupakan korban pelecehan seksual dan 7% lainnya dilarang dari bidang tertentu atas dasar jenis kelamin mereka.

Angka-angka tersebut melonjak masing-masing menjadi 15% dan 19% dalam survei terbaru dari 505 pesepakbola perempuan, pelatih, official pertandingan, administrator, dokter, fisioterapis, pengacara, agen, dan media, public relations dan sponsor profesional.

Penelitian dilakukan oleh Profesor Sue Bridgewater, yang menjalankan program Diploma Asosiasi Manajer Liga untuk manajer sepakbola dan mengajar di Universitas Liverpool.

Survei juga menemukan bahwa hampir setengah dari responden itu merupakan korban dari seksisme, sementara hampir dua pertiga di antarannya mengalami ejekan seksis atau lelucon di tempat kerja.

Beberapa pernyataan responden yang dirahasiakan namanya menceritakan berbagai insiden seksis.

“Insiden seksis terjadi setiap hari karena budaya lingkungan kita bekerja dan terlalu banyak insiden seksis untuk digambarkan. Ini endemik.”

“Seorang wasit perempuan remaja yang melakukan perjalanan ke pertandingan dengan seorang pejabat laki-laki yang lebih tua telah dilecehkan secara seksual, dengan sentuhan yang tidak pantas, selama di perjalanan. Dia mengatakan bahwa tidak ada gunanya mengeluh karena dia masih sangat muda tidak ada yang akan percaya padanya. Dan wasit perempuan tersebut pun akhirnya takut terhadap nasib karirnya.”

“Saya telah mengalami ejekan seksis dari rekan-rekan saya, mereka mengirim teks seksual provokatif pada hari pertandingan dan tidak mendukung dengan cara apapun ketika saya mengeluh. Situasi menjadi begitu tak tertahankan dan saya harus meninggalkan pekerjaan saya.”

“Seorang manajer sepakbola senior menggambarkan seorang wartawan sepakbola perempuan sebagai ‘tanggul’ di dunia kerja tersebut.”

“Salah satu orang paling senior dalam organisasi kami berusaha secara seksual melecehkan seorang wanita muda. Ketika saya mengajukan keluhan resmi, saya diberitahu oleh pejabat senior lainnya untuk menghentikan itu.”

134