Johan Cruyff Runtuhkan Ego Rivalitas Madrid-Barcelona

Minggu, 27 Maret 2016 00:38 WIB
Editor: Irfan Fikri
 Copyright:

Johan Cruyff tercatat sebagai legenda Barcelona, namun wafatnya Cruyff akibat kanker paru-paru dirasa duka bagi insan sepakbola dunia, termasuk Real Madrid.

Presiden Madrid Florentino Perez pun rela menyambangi markas Barcelona untuk memberi penghargaan terakhir pada bintang yang wafat pada usia 68 itu.

Presiden Madrid Perez memuji bintang asal Belanda itu sebagai legenda sepakbola, ikon olahraga. Baginya, Cruyff adalah pemain luar biasa di era ini.

"Ini adalah hari yang menyedihkan. Saya percaya ada beberapa orang yang seharusnya ‘tidak pernah mati’ dan Johan Cruyff adalah salah satu dari mereka,” kata Perez dalam pidatonya.

“Kami lahir di era yang sama, dan saya mengikuti perjalanan seluruh kariernya. Dia mengubah sejarah Barca dan sepakbola pada umumnya, bukan hanya di Spanyol tapi di seluruh dunia,” tegas ia.


Johan Cruyff saat masih memperkuat Barcelona selama enam musim di tahun 70-an.
 

Cruyff adalah pemicu kebangkitan di sepakbola Spanyol. Harga diri Spanyol terangkat saat ia melatih Barcelona Barcelona pada 1988. Blaugrana memenangi empat gelar La Liga dan Liga Champions selama masa jabatannya.

“Terima kasih Johan untuk kejeniusan dan kepemimpinan Anda. Anda membuat kami percaya bahwa kami bisa mencapai apapun,” timpas bos Barcelona, Josep Bartomeu.

Warisan yang paling penting, ia menciptakan ide La Masia - akademi muda Barcelona yang banyak melahirkan pemain kelas dunia seperti  Lionel Messi, Xavi dan Andres Iniesta. 

231