Klub Liga Inggris Ini Pernah Berkantor di Mobil Karavan

Minggu, 10 April 2016 14:37 WIB
Editor:
 Copyright:

Waktu cepat berlalu bagi fans Wigan Athletic, klub liga Inggris yang terbilang sebagai klub kecil dan tak memiliki prestasi gemilang di sepakbola. Wajar memang jika menyebut klub ini sebagai klub kecil dan minim presatsi, pasalnya sedari awal berdiri klub ini juga merangkak dari bawah. 

Pada 1994 saja misalnya, klub ini disebut sebagai klub liga Inggris yang memiliki kandang (dalam harfiah sebenarnya) terjorok. Wigan saat itu bermarkas di stadion Springfield Park. Stadion ini sangat jorok dan sangat tak layak di jadi markas satu klub sepakbola. Saat itu, Wigan tengah berjuang di kasta keempat liga Inggris. 

"Springfield Park saat itu seperti memiliki ciri khas untuk Wigan," kata Barry Worthington seperti dilansir dari Fourfour two. 

Menariknya hal tersebut bukanlah yang paling buruk. Wigan pernah mengalami nasib paling naas dari sekedar bermarkas di stadion paling jorok. Wigan ternyata pada awal berdiri memiliki kantor di sebuah mobil karavan. 

Mobil karavan berwarna putih dengan banyak tulisan dijadikan sebagai kantor Wigan karena klub ini tak memiliki dana untuk menyewa sebuah kantor. Perjalanan berliku dari Wigan sempat mendapat titik terang kala tim berjuluk The Latics ini pada 2011 lalu di liga Primer Inggris sempat mendapat julukan sebagai tim kuda hitam, 

"Kami saat itu seperti berada di dunia mimpi, kami punya stadion yang keren yang membanggakan. Semua terlihat bersih bahkan toilet pun sangat terawat. Saat ini kami satu level dengan Liverpool, tim yang main di liga Champions saat kami masih berjuang di kasta terendah," kata Worthington. 

Wigan memang menjadi salah satu klub 'asli' liga Inggris yang benar-benar merangkak untuk bisa menjadi klub yang bermain di kasta tertinggi liga Inggris. Pada musim 1993/1994 saja misalnya, Wigan yang bermain di kasta keempat berada di posisi ke 89 dari 92 tim yang bermain di kompetisi tersebut. 

Saat itu, mereka hanya terpaut tujuh poin dari zona merah degradasi. Musim selanjutnya, keadaan tidak berubah. Mereka jadi penghuni dasar klasemen dan menerima kenyataan pahit mengalami 12 kali kekalahan beruntun. 

"Wigan saat itu sangat sekarat," kenang mantan pemain Wigan saat itu, Graham Barrow.