Gelandang Viitorul Constanta, Pablo de Lucas, menjadi saksi mata detik-detik kematian Patrick Ekeng. Ia mengecam tim medis yang dianggapnya lamban untuk menyelamatkan hidup Ekeng, ketika pemain asal Kamerun tersebut pingsan di lapangan.
Saat itu, klub yang dibela Ekeng, Dinamo Bucharest sedang menghadapi Viitorul Constanta. Lucas melihat Ekeng sudah kesulitan bernapas.
"Saya berada sekitar satu meter dari Ekeng. Ia kesulitan bernapas," kata Lucas seperti dilansir dari Marca.

Patrick Ekeng (kanan) harus meregang nyawa sekitar dua jam mendapat perawatan di rumah sakit.
Menurut Lucas, seharusnya nyawa pemain berusia 26 tahun itu bisa diselamatkan, jika tim medis sigap dan tahu cara menangani masalah.
"Tim medis memang berupaya untuk melakukan segala hal dengan menyadarkannya. Mereka mencoba mengeluarkan sesuatu dari lidahnya, seolah-olah dia tercekik. Padahal bukan itu masalahnya. Usaha itu benar-benar tidak masuk akal," kata pemain asal Spanyol tersebut.
Lebih lanjut, gelandang berusia 29 tahun tersebut menuturkan, tim medis dan dokter dari Dinamo Bucharest seakan-akan tak tahu metode pengobatan.
"Di lapangan, ada seorang dokter dan dua staf medis Dinamo. Tapi, tak ada yang melakukan tindakan seperti halnya seorang tim medis. Mereka seolah-olah tak tahu cara menanganinya secara medis," ujarnya.
Di sisi lain, kata Lucas, ambulans yang datang pun lambat bergerak menolong Ekeng. Belum lagi, menurutnya, peralatan medis yang dibutuhkan tidak ada.
"Butuh waktu tiga menit ambulans masuk ke lapangan. Seolah-olah mereka tak ingin merusak rumput.Seakan-akan Ekeng hanya cedera engkel. Peralatan medis di dalamnya pun kurang lengkap. Memang ada defibrillator (stimulator detak jantung) seperti yang digambarkan media massa, tapi itu tak membantu," katanya.
Seperti diketahui, Ekeng pingsan saat ia baru bermain 7 menit sebagai pemain pengganti di babak kedua. Sekitar dua jam mendapat perawatan di rumah sakit, nyawa Ekeng tak tertolong. Ia tewas karena serangan jantung.