Pertandingan antara Persija kontra Sriwijaya harus dihentikan oleh Wasit Djumadi Effendi setelah terjadi kerusuhan antara The Jakmania dan pihak kepolisian di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.
Kejadian yang bermula dari tindakan penyalahgunaan flare atau suar menyebabkan anggota kepolisian betindak tegas. Namun, pada kenyataannya pihak kepolisian dan Ketua Umum Jakmania, Richard Achmad Supriyanto, mengklaim bahwa kejadian itu dipicu lantara penonton masuk ke dalam lapangan.
"Kalau tidak ada faktor penonton yang ke lapangan ini semua tidak akan terjadi, kami akan lihat evaluasinya nanti," ucap Ketua Umum Jakmania, dikutip dari Superball.
Akan tetapi, apapun alasannya kejadian antara The Jakmania dan aparat keamanan menjadi catatan buruk yang baru dalam penyelenggaraan TSC. Sebelumnya, turnamen yang dibuat untuk mengisi kekosongan roda pertandingan sepakbola nasional pernah melibatkan perkelahian antara suporter Persegres Gresik United dan PS TNI yang notabene diisi oleh kelompok tentara.
Dalam kerusuhan yang terjadi di Gresik itupun pihak Komisi Disiplin Torabika Soccer Championship (TSC) telah mengeluarkan keputusan terkait kerusuhan. Namun, hukuman tersebut bisa dibilang sangat ringan dan ‘mura’.
Pihak PS TNI hanya dijatuhi hukuman denda Rp 50.000.000,00 (Lima puluh juta rupiah) dan dua kali larangan tanpa dukungan suporter PS TNI saat laga tandang (pekan 6 dan 8). Sedangkan pihak Gresik dijatuhi hukuman peringatan keras dan denda Rp 10.000.000,00 (Sepuluh juta rupiah) kepada kelompok suporter Ultras (Persegres Gresik United).
Angka-angka dan peringatan tersebut sejauh ini sudah sangat jelas tidak dapat meminimalisir terjadinya bentrokan di dunia sepakbola. pihak Komdis setidaknya harus memberikan hukuman yang lebih dari itu demi menghindari jatuhnya korban jiwa di dalam karut marutnya dunia sepakbola Indonesia.