Critic Sport

ANALISIS PSIKOLOGIS: Beban Berat Picu Pesepakbola Muda Tak Punya Mental Juara

Senin, 8 Agustus 2016 14:44 WIB
Editor: Irfan Fikri
 Copyright:

Dunia sepakbola Indonesia kembali menggeliat setelah FIFA resmi mencabut sanksi bagi Indonesia. Skuat Merah Putih pun kembali diizinkan berlaga di ajang internasional begitu pula para penggawa muda yang tergabung dalam timnas U-19.

Para pemain timnas U-19 mendapatkan tantangan besar pasca PSSI kembali aktif setelah sebelumnya mendapat sanksi FIFA. Meski realistis, tentunya banyak rakyat Indonesia yang berharap jika mereka dapat mengulangi kejayaan mereka saat mengalahkan tim nasional Korea Selatan 3-2 di ajang penyisihan Piala AFC U-19 pada 2013 silam.

Di usia mereka yang masih belia, Evan Dimas dkk sudah mendapat tanggung jawab besar untuk mampu menjadi juara di ajang internasional yang bahkan timnas senior pun belum dapat melakukannya.

Publik tentunya masih ingat saat timnas U19 Indonesia pada tahun 2013 silam sukses merebut gelar juara Piala AFF. Keberhasilan Evan Dimas dkk menjadi juara di ajang tersebut seolah menghapus dahaga puasa gelar dan kutukan yang selalu dialami timnas di partai final.

Timnas Indonesia dalam berbagai kategori umur selalu kandas di partai puncak. Seperti pada periode 2000, 2002 dan 2004, timnas Indonesia hanya dapat mencapai partai puncak dan harus selalu puas di urutan kedua.

Armada Indra Sjafri sukses mematahkan kutukan kegagalan enam kali di babak final bagi timnas Indonesia. Anak asuhnya sukses menumbangkan Vietnam melalui adu penalti yang berkesudahan 7-6 (0-0). 

Namun menjadi juara membuat timnas U19 tak selamanya menjadi kebahagiaan bagi timnas U-19 karena beban berat justru harus mereka pikul setelahnya. Indra Sjafri bahkan mengibaratkan jika anak asuhnya harus menanggung segala ‘beban negara’ setelah menjadi juara.

“Kita karena tidak punya gelar juara, usia muda itu jadi seperti penebus dosa. Kegagalan-kegagalan di bidang lain dicurahkan ke anak-anak,” ujar Indra Sjafri kala itu.

Indra mengeluhkan jika saat itu jika anak asuhnya mendapat beban berat karena mereka harus menjadi juara di ajang Piala Asia 2014.

Banyak pemain muda yang sebelumnya cukup berprestasi di level junior, namun justru terpuruk saat mereka mengarungi kompetisi sesungguhnya. 

Lalu apa penyebabnya? 

Menurut Psikolog Klinis Universitas Indonesia, Angesty AZ Putri, para atlet yang masih berusia muda harus mendapat perlakuan berbeda dibanding dengan pemain yang telah berusia matang. Atlet yang masih berusia di bawah 20 tahun menurut psikolog yang akrab disapa Anes ini masih dikategorikan dalam usia muda alias remaja.

“Secara mental gejolak pemain muda memang lebih besar, emosi belum stabil, hubungan dengan teman,  juga belum stabil apalagi mereka mendapatkan tekanan untuk menjadi juara, jadi pastinya mereka lebih tertekan,” ujar psikolog yang akrab disapa Anes kepada INDOSPORT.


Psikolog Klinis Universitas Indonesia, Angesty AZ Putri

Anes menyebut jika para pesepakbola muda memiliki jiwa kompetitif yang sangat tinggui, namun mereka belum mampu mengelolalnya dengan baik. Hal tersebut harus menjadi perhatian klub ataupun orang-orang di sekitar mereka.

“Sebenarnya mereka tidak bias dikatakan belum siap untuk dapat tekana, tapi ada unsur menggampangkan mereka sama sekali belum siap dengan kemungkinan terburuk, tuntutan seluruh orang menjadi beban besar untuk mereeka,” tambah Anes.

Para pemain muda layaknya remaja normal memiliki karakter berbeda dalam menyikapi tuntutan untuk menjadi juara. Oleh karena itu Anes menilai jika peran psikolog sangat penting untuk membimbing para pemain muda.

“Sebagian dari mereka pasti punya persepsi berbeda, jika da yang memiliki emosi negatif maka mereka akan menanggapi tuntutan untuk menjadi juara itu sebagai tekanan ini tergantung orangnya, namun ada juga yang bisa mempersepsi tanggung jawab sebagai hal posytif untuk mereka,” tambah Anes.

Masih Langka

Peran psikolog dianggap Anes sangat penting bagi sebuah cabang olahragam termasuk sepakbola. Dalam dunia psikologi, bidang pikolog olahraga memang memiliki spesifikasinya sendiri, namun satang di Indonesia kehadiran psikolog olahraga masih sangat jarang.

“Setahu saya di Kemenpora itu ada satu bgain khusus yang menangani masalah pembinaan atlet-atlet muda, untuk di Indonesia sendiri memang peran psikolog olahraga belum berkembang dengan baik,” ujar Anes.

Mengenai penyebab banyaknya pemain  muda yang berprestasi di level junior namun terpuruk saat memasuki kompetisi seungguhnya menjadi perhatian lain dari psikolog jebolan Universitas Indonesia tersebut.

“Ya mungkin mereka kaget karena saat latihan mereka sudah sidap, namun saat masuk ke kompetisi sesungguhnya mereka justru tak fokus, fasilitas pendukung juga berpengaruh misalnya kondisi lapangan yang berbeda juga bisa jadi penyebab,”

Peran psikolog olahraga menjadi penting karena untuk urusan teknis pelatih memang seratus persen berhak mengendalikan. Namun untuk masalah mental dan psikologis, di sinilah peran psikolog olahraga yang akan membimbing mereka.

108