Menurut Mundari Karya, kekalahan timnya atas MU dikarenakan faktor keberuntungan. Tim Sapeh Kerab lebih beruntung dibandingkan Barito Putera.
Jika dilihat dari jalannya pertandingan, Barito Putera memang seharusnya layak membawa pulang satu poin. Pasalnya, tim berjuluk Laskar Antasari bermain disiplin dengan banyak menahan gempuran MU yang bermain agresif.
Namun, akibat berkurangnya konsentrasi di sepuluh menit akhir, harapan mencuri satu poin pun buyar melalui gol tunggal MU yang dibukukan Aliazer Elthon Maran pada menit ke-84.
"Seharusnya hasil yang adil itu 0-0, jika melihat kerja keras kami sepanjang pertandingan," ungkap Mundari Karya.
"Tapi ya begitulah sepakbola. Terkadang strategi saja tidak cukup, tapi juga keberuntungan punya peran penting untuk hasil akhir," lanjutnya.

Para pemain Barito Putera melakukan protes terhadap keputusan wasit.
Meski begitu, Mundari tetap tak mau menyalahkan anak-anak asuhnya. Adam Alis Setyano dan kawan-kawan dinilai sudah bermain sangat bagus, namun hanya kurang beruntung pada hasil akhir.
"Tim ini baru saya bangun, jadi maklum saja kalau hasilnya masih belum maksimal," ungkap eks pelatih Persikota Tangerang tersebut.
"Apalagi, pemain kita muda-muda usianya. Memang akan menjadi tugas kami membenahi konsentrasi di pertandingan ke depan," uajrnya.
Kekalahan tersebut membuat Laskar Antasari menduduki posisi ke-15 klasemen sementara TSC 2016 dengan torehan 16 poin dari 17 pertandingan. Sementara MU berhasil menjadi juara paruh musim TSC 2016 dengan raihan 37 poin.