Fenomena sepinya penonton di Kanjuruhan diakui merugikan Panitia Pelaksana (Panpel) Arema Cronus secara materi. Dengan kehadiran tak lebih dari 10 ribu penonton dalam tujuh laga terakhir, Panpel Arema mengklaim mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
"Dugaan kita dari awal, Aremania malas datang ke Kanjuruhan karena jam kick off dinilai terlalu malam dan juga jarak yang jauh ketika pulang dari Kepanjen," kata Abdul Haris.
Pemindahan markas kandang Arema ke Stadion Gajayana, bisa menjadi solusi bagi fenomena tersebut, karena letak venue yang tepat di tengah kota dengan berbagai akses yang mudah.
"Untuk itu lah, kami mencoba buktikan hipotesis itu. Mudah-mudahan penonton kembali ramai untuk mendongkrak pemasukan dari tiket," Ketua Panpel Arema Cronus itu melanjutkan.
Di sisi lain, kepindahan kandang tim berlogo singa ke Stadion Gajayana juga tak lepas untuk kembali merasakan romantisme lama.
Di mana sejak klub kebanggaan Aremania itu berdiri pada 1987, Stadion Gajayana telah memberi magis terhadap menanjaknya prestasi Arema dari era kompetisi Galatama, Liga Indonesia hingga Indonesia Super League.
Terakhir kali, Arema Cronus berlaga di stadion yang berdiri sejak 1924 itu adalah ketika bermain imbang 2-2 kontra Persik Kediri dalam laga pamungkas kompetisi ISL musim 2014 lalu.
Dan, dengan harapan laga berjalan lancar, Panpel pun membuka kemungkinan terus berkandang di markas Persema Malang itu dalam lima laga kandang tersisa di TSC musim ini.
"Ya bisa saja. Jika nanti pertandingan berjalan lancar, kami akan lanjutkan pembahasan itu," pungkas Abdul Haris.