Salah satu calon ketua umum PSSI, Djohar Arifin Husin menegaskan akan mencoba membangun industri sepakbola nasional ke arah yang lebih baik. Mantan ketua umum PSSI periode 2011-2015 tersebut ingin lebih memperhatikan dan menyejaterakan pelaku disepakbola seperti pemain dan wasit.
“Jadi pemikiran ke depannya kita akan control semua hal dari pemain. Kita akan bentuk tim untuk membela hak-hak pemain, semacam bantuan untuk mengetahui hak-hak mereka sebelum menandatangani kontrak,” ungkapnya saat acara dalam acara Debat Calon Ketua Umum PSSI 2016-2020 yang berlangsung di kawasan Senayan, Jakarta.
“Voters di PSSI juga harus pro aktif dalam menyuarakan masalah pemain, kita harus bersama menjalankan hal ini,” sambungnya.

Djohar Arifin Husin saat memaparkan visi dan misinya di hadapan panelis.
Selain ingin memberikan hak dan perlindungan kepada pemain, Djohar Arifin juga ini menegaskan pemahaman kepada klub-klub di Indonesia, dalam hal ini berkaitan dengan financial fairplay.
Djohar Arifin menginginkan agar klub sepakbola di Indonesia bisa mempertimbangkan pengeluaran dengan pemasukan yang didapat agar klub bisa berkembang secara berkesinambungan di masa depan.

Sembilan nama akan bersaing menjadi ketua umum PSSI.
“Kita akan berikan advokasi kepada klub agar melakukan sesuatu itu sesuai kemampuan, jangan memaksakan. Jangan sampai besar pasak dari pada tiang, kalua memaksakan diri bisa jadi uang yang diperoleh juga tidak halal,” tandas pria 66 tahun tersebut.
Sebelum melaksanakan visi misinya tersebut, terlebih dahulu djohar Arifin harus bersaing dengan delapan nama lain untuk menjadi ketum PSSI diantaranya, Benhard Limbong, Eddy Rumpoko, Toni Apriliani, Edy Rahmayadi, Moeldoko, Erwin Aksa, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Sarman el Hakim di kongres pemilihan 17 Oktober mendatang di Makassar.