Mata uang poundsterling tengah alami trend negatif terhadap dollar AS dan Euro. Bahkan trend negatif ini paling parah sejak 1985 silam. Kurs poundsterling jatuh lebih dari dua persen terhadap dolar AS dan melemah hingga 1,21 dolar AS. Sedangkan nilai poundsterling jatuh ke angka 1,10 euro.
Anjloknya nilai poundsterling ini menimbulkan banyak kekhawatiran di dalam negeri Inggris. Salah satu pihak yang paling khawatir ialah pelaku dan otoritas liga Inggris.
Dilansir dari ESPN, sejumlah pihak pelaku dan otoritas liga Inggris menyebut efek jatuhnya nilai poundsterling tentu akan berpengaruh pada liga Inggris, utamanya terkait gaji pemain liga Inggris yang sebagian besar menggunakan mata uang dollar dan euro.
Meski begitu sejumlah pihak meyakini bahwa trend negatif mata uang poundsterling bukanlah bencana besar untuk liga Inggris. Efeknya diyakni pihak tersebut justru berdampak pada liga-liga lain di Eropa. Pasalnya banyak klub di Eropa lainnya yang sangat meminati bintang-bintang liga Inggris.
Artinya klub-klub dari Serie A, La Liga Spanyol, Bundesliga, dan Liga Belanda harus mengeluarkan uang besar untuk bisa membeli pemain dari liga Inggris. Tercatat 15-20 persen pemain dari liga Inggris akan 'dirampok' klub-klub Eropa sepanjang dua musim terakhir.
Selain itu, neraca keuangan klub liga Inggris lebih baik dibanding klub Eropa lainnya. Ada sejumlah pemasukan dari klub liga Inggris yang tak semata dari penjualan pemain, tapi juga dari harga tiket, sponsor, hingga kesepakatan kontrak TV lokal dan internasional.
Terkait kontrak TV, otoritas liga Inggris bahkan akan mendapat fee terkait dengan peraturan pemutusan steaming ilegal liga Inggris yang banyak dilakukan di sejumlah negara. Artinya, sangat fluktuatif nilai poundsterling yang terjun bebas akan membuat liga Inggris terganggu.