Striker berusia 23 tahun itu memicu perang dalam buku autobiografinya. Di dalamnya, Icardi mengaku kesal dengan tindakan fans garis keras Inter yang disebut Curva Nord. Bahkan, Icardi mengancam dapat membunuh mereka.
Mengetahui hal itu, para ultras pun mendesak Icardi untuk mencopot ban kaptennya di Inter. Mereka juga membentangkan spanduk yang menyatakan bahwa mantan penyerang Sampdoria itu bukan manusia setelah berencana mengirim 100 pembunuh dari Argentina.
Isu tentang perseteruan Icardi dan iltras saat ini menjadi topik hangat di persepakbolaan Italia. Surat kabar seperti La Gazzetta dello Sport menjadikan hal ini sebagai headline dengan topik “Neraka Inter.”

Sementara itu, surat kabar Corriere dello Sport mengambil sudut lain atas perseteruan Icardi dan ultras. Media ini menggiring isu ke konteks pendepakan pria asal Argentina itu dengan headline “Bilamana Icardi ke Napoli?”

Untuk Tuttosport, mereka memuat foto Icardi di halaman utama dan menceritakan momen kejadian kemarahan ultras di Giuseppe Meazza. Berkat amarah itu, penyerang Nerazzurri pun gagal mengeksekusi penalti.
Terlepas dari tiga surat kabar tersebut, masalah Icardi saat ini sangat intens diberitakan Football Italia. Bahkan, media online tersebut lewat cuitan di Twitter mencurigai jika pengurus klub belum ada yang membaca autobiografi Icardi.
Kejadian ini tentu saja tidak akan terjadi jika Icardi tidak menyimpan dendamnya pada ultras Inter yang melempar jersey ke hadapannya. Insiden di tahun 2015 kala tunduk 1-3 di markas Sassuolo selayaknya bisa jadi cambuk untuk meningkatkan performa tim, bukan justru menantang ultras lewat buku autobiografi.