Perjuangan menjaga eksistensi Persebaya Surabaya di pentas sepakbola nasional terus digelorakan Bonek, suporter setia klub tersebut. Mereka tetap pada pendiriannya, yakni menuntut pihak-pihak yang dinilai menghalangi kebangkitan Persebaya.
Sore tadi, terlihat para Bonek menggenakan kaos hijau berlalu lalang di jalanan Kota Surabaya. Mereka berbondong-bondong menghijaukan Lapangan Persebaya di Jalan Karanggayam, Surabaya. Ribuan suporter Bonek yang berasal dari Surabaya dan beberapa kota di Jawa Timur menggelar rapat konsolidasi, menyikapi hasil keputusan Kongres PSSI.
Mereka berkumpul dalam rapat akbar untuk berkonsolidasi seraya memperjuangkan nasib tim kesayangannya, Persebaya. Sebab, tim berjuluk Green Force itu masih belum diakui oleh induk organisasi sepakbola Tanah Air, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
Salah satu keputusan rapat akbar itu adalah melakukan perjuangan yang lebih santun. Yakni perjuangan hingga ke sudut-sudut perkampungan Kota Pahlawan. Tujuannya adalah memberikan sosialisasi kepada warga tentang fakta sebenarnya yang terjadi pada Kongres PSSI di Jakarta, Kamis, (10/11/16) lalu.
"Aksi perjuangan dan perlawanan kali ini tidak dalam bentuk konvoi atau hal yang berujung anarkis. Sebagai salah satu bentuk perjuangan, kami akan memasang spanduk pada setiap kelurahan adanya kedzaliman yang diterima Persebaya," tegas Koordinator Arek Bonek 1927, Andi Peci.

Andi Peci berorasi di depan ribuan Bonek menjelaskan upaya lanjutan perjuangan demi Persebaya Surabaya.
"Diharapkan seluruh Bonek, baik di Surabaya ataupun luar kota, memasang spanduk perlawanan terhadap PSSI di setiap kelurahan. Kami ingin semua warga Surabaya turut merasakan dan mengetahui apa yang tengah dialami oleh Persebaya ini merupakan penzaliman," lanjut Andi.
Pihak manajemen klub juga mengerahkan upaya selama tiga tahun lamanya untuk memperjuangkan agar Persebaya bisa diakui. Mereka siap bersatu bersama para suporter agar PSSI segera mengesahkan Persebaya.
Hanya saja, menurut Andi, suporter meminta manajemen fokus melakukan langkah hukum kepada mantan Chief Executive Officer (CEO) klub, Gede Widiade. Pasalnya, dia diketahui memakai nama Persebaya saat Kongres PSSI. Padahal, Gede bukan lagi pengurus Persebaya, melainkan Bhayangkara FC.
"Kami menuntut pengurus melaporkan Gede Widiade ke polisi. Ia bukan orang Persebaya. Sehingga tidak berhak mengaku sebagai voter Persebaya dalam kongres kemarin," tegas Andi Peci.
Berbeda dengan aksi sebelumnya, aksi yang dikawal ketat oleh anggota Kepolisian Sektor Tambaksari itu berlangsung tertib. Para Bonek berangsur meninggalkan tempat dengan tertib dan tak menimbulkan kerusuhan hingga rapat akbar tersebut usai.