Kapten tim Sriwijaya FC, Supardi, menceritakan bagaimana dirinya dan rekan-rekannya sempat bingung dan ketakutan. Pasalnya, hal itu merupakan pengalaman yang baru dirasakan seluruh awak tim Laskar Wong Kito.
“Saya terlahir dari daerah perairan di Bangka. Tapi hal ini sungguh menakutkan, bahkan saya sampai keringat dingin,” ujar Supradi.
Tentu saja, berada di kapal yang mati mesin kemudian terkena ombak besar, tentu sangat menakutkan. Supardi baru bernafas lega saat kapal terdampar di pulau kecil tanpa penghuni.
“Pas di pulau itu saya coba hubungi keluarga karena khawatir mereka sudah mengetahui berita kami terdampar. Tapi sayangnya tidak ada sinyal sama sekali,” lanjut Supardi meceritakan pengalamannya tersebut.
Akhirnya, setelah diperbaiki, kapal yang ditumpangi Supardi pun berhasil mencapai Biak. Sampainya di sana, Supardi berusaha untuk menutupi rasa takutnya dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
Masih kata Supardi, setelah tiba di Palembang, pemain SFC masih mengalami trauma pasca kejadian itu. Setidaknya butuh waktu untuk dapat melupakan ketakutan tersebut. “Sekarang saja semua pemain masih trauma, tidak terbayangkan kejadian itu sangat menakutkan,” ucapnya.
Meski demikian, Supardi pun percaya para pemain bisa bisa melupakan kejadian tersebut jelang pertandingan melawan Barito Putera. “Kita hanya butuh waktu saja menghilangkan trauma itu,” tandas mantan pemain Persib itu.