Qatar, Hajatan Piala Dunia, dan Sekelumit Problema Hak Asasi Manusia

Sabtu, 10 Desember 2016 15:54 WIB
Editor: Rizky Pratama Putra
 Copyright:

Qatar akan menjadi negara ketiga di Asia yang bakal menggelar hajatan Piala Dunia. Sebelumnya, Jepang dan Korea Selatan sukses menjadi penyelenggara pada tahun 2002 lalu.

Dua puluh tahun setelah kedua negara Asia Timur tersebut, Qatar siap menyambut proyek ambisius di cabang olahraga ini. Bahkan, salah satu negara penyuplai minyak ini telah mengambil ancang-ancang sejak tahun 2010 lalu untuk proyek ini.

Bukan hal lumrah memang, kala sebuah negara yang berada di antara padang gurun ingin menggelar ajang sekelas Piala Dunia. Akan tetapi, dengan teknologi dan biaya miliaran Dolar Amerika Serikat, Qatar mencoba membalik logika banyak pihak.

Desain dan tata kelola penyelenggaraan Piala Dunia 2022 mendatang telang diluncurkan oleh panitia. FIFA pun akhirnya tak ragu menunjuk salah satu negara di jazirah Arab ini untuk menggelar ajang tersohor di dunia sepakbola ini.

Pembangunan demi pembangunan mulai dibenahi oleh Qatar. Mulai dari sarana hingga prasarana penunjang mulai dikebut untuk mencapai target yang diminta FIFA sebagai salah satu bukti kesiapan mereka untuk menggelar Piala Dunia, 5 tahun mendatang.

Akan tetapi, masalah baru mulai menyeruak ke permukaan. Dalam sisi kemanusiaan, ternyata ada sejumlah pengabaian yang dilakukan Qatar selama proses pembangunan.

Sisi perburuhan menjadi salah satu aspek kental yang mendapat sorotan selama pembangunan. Seperti apa kondisi pembangunan jelang Piala Dunia 2022 tersebut? Berikut hasil ulasan dari INDOSPORT.

501