Qatar, Hajatan Piala Dunia, dan Sekelumit Problema Hak Asasi Manusia
Tumpang tindih permasalahan Piala Dunia 2022 tak berhenti sampai pada praktek kekejian pembangunan. Qatar pun terselaput masalah baru, dugaan skandal korupsi.
Tidak main-main, dugaan ini berawal dari nyanyian mantan Presiden FIFA, Sepp Blater. Pada sebuah wawancara dengan media asal Rusia, TASS, Blater menyebutkan bahwa ada andil Amerika Serikat (AS) dalam upaya mengkudetanya dari jabatan Presiden FIFA pada tahun 2010.
Wawancara yang direkam pada tahun 2015 lalu ini menyebutkan bahwa Blatter menuduh AS mencoba menggunakan Michel Platini yang kala itu menjadi Presiden UEFA. Blatter mengatakan bahwa AS mencoba menyuap UEFA agar bisa memuluskan upayanya menjadi tuan rumah.
Sepp Blatter dan Michel Platini sempat dituduh 'bermain' dalam dugaan skandal korupsi yang terjadi dalam pencalonan tuan rumah Piala Dunia.Selain itu, desas-desus soal skandal korupsi juga menyeruak terkait tender pembangunan sejumlah infrastruktur yang dijanjikan akan digarap oleh beberapa petinggi FIFA. Sebuah laporan dari Departemen Hukum AS melansir sebuah laporan yang menyebut bahwa FIFA meraup tidak kurang dari USD150 juta (Rp1,9 trilun) untuk proses lelang Piala Dunia dalam 24 tahun terakhir.
Fakta ini sempat membawa Qatar ke dalam krisis jelang penyelanggaraan Piala Dunia 2022. Bahkan sejumlah protes dilayangkan untuk menyerukan aksi boikot terhadap penyelenggaraan Piala Dunia tersebut.
Salah satu organisasi perempuan di Jerman, FEMEN, melakukan aksi kampanye yang cukup sensasional terkait dugaan pelanggaraan hak asasi manusia (HAM) di Qatar. Dua orang perempuan tiba-tiba menyeruak tanpa menggunakan baju ke dalam sebuah acara talkshow.
Mereka membuat body painting di bagian dada dengan gambar bola. Mereka pun meneriakkan untuk memboikot FIFA dan Piala Dunia 2022.
Alasannya jelas, skandal korupsi di FIFA dan dugaan pelanggaraan HAM terhadap sejumlah pekerja di Qatar.