Timnas Indonesia kembali melakukan latihan pada pagi hari tadi di lapangan Sekolah Pelita Harapan (SPH) setelah mendapatkan libur sehari pada Sabtu (10/12/16). Pada latihan hari ini, pelatih Alfred Riedl meminta anak asuhnya untuk fokus pada latihan umpan pendek, simulasi pertandingan, dan penyelesaian akhir.
Menariknya pada laga simulasi tersebut, Alfred Riedl membagi para penggawa dalam dua kubu, dengan salah satu yang menggunakan rompi kuning merupakan para pemain yang mengisi starting XI di laga semifinal lalu. Pada kesempatan itu pula, pemain serba bisa, Manahati Lestusen diminta untuk bermain di pos gelandang bertahan, namun dengan posisi yang lebih dalam atau ke belakang sehingga Timnas terlihat seperti bermain dengan lima pemain bertahan.
Usai pertandingan, Alfred Riedl menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi saat Timnas kehilangan bola. Hal itu dilakukan karena lawan yang dihadapi adalah juara bertahan Thailand yang juga sangat produktif dalam mencetak gol dan baru kebobolan dua gol.
"Kami memcoba sesuatu soal taktikal hari ini, dan pemain yang akan menjadi line up untuk Thailand belum pasti, bisa saja ada perubahan. Pemain sendiri dalam keadaan keadaan baik saat ini, setelah recovery usai kelelahan termasuk pemain belakang, mereka dalam kondisi baik, tidak ada masalah," ujar Alfred Riedl.
"Kita mencoba latihan untuk lawan Thailand yang kita pernah lawan sebelumnya. Mengenai latihan bertahan itu antisipasi saat kita kehilangan bola, jadi kita harus coba bermain dan berusaha mencuri bola makanya latihan kita coba dengan lima pemain bertahan hingga tadi Manahati juga turun ke belakang," lanjut pelatih asal Austria itu lebih lanjut.
Jika dilihat, latihan taktik yang diinstruksikan Alfred Riedl seakan menjelaskan bahwa ia ingin mengasah kemampuan anak asuhnya dibarisan belakang dengan membangun tembok pertahanan yang kokoh.
Taktik seperti itu pernah dilakukan oleh pelatih Manchester United saat ini, Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal tersebut disebut-sebut menerapkan taktik 'parkir bus' ketika membawa Chelsea juara musim 2014/2015 dan saat mengantarkan Inter Milan juara Liga Champions pada 201 lalu.
Taktik itu merujuk pada penumpukan pemain bertahan dan lebih sering menunggu serangan lawan dan mencari celah untuk melakukan serangan balik secara tepat.