Sejak masih bernama Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ), klub asal Jakarta sudah mempunyai pendukung yang cukup fanatik. Berdiri di Tanah Abang pada 28 November 1928, VIJ dengan cepat menarik hati pribumi. Sebagai perlawanan di pihak Indonesia merdeka, segala perjalanan VIJ selalu diikuti dengan setia oleh warga Tanah Abang, Jatibaru, Petojo, hingga Kramat.
Pendukung VIJ kalah itu disebut dengan VIJ’ers. Gairah VIJ’ers diikuti oleh para warga kota Jakarta yang juga gemuruh pada era 1050-an hingga 1970-an. Era tersebut sebagian besar warga Jakarta ingin melihat aksi-aksi gemilang dari para pemain Persija.
Maju ke depan pada era 1980-an. Pendukung Persija mulai lesu dan terkota pada daerah-daerah tertentu saja. Tapi tetap saja, atribut merah-putih khas Persija kerap tampil di pertandingan-pertandingan Persija.
Tahun 1990 atau lebih tepatnya era 1990-an, Persija mulai alami kelesuan. Prestasi menurun, penonton pun kabur. Namun, pada era tersebut, lahir pula sekolompok anak muda Jakarta yang peduli dengan Persija. Mereka membentuk kelompok suporter Persija dengan nama The Jakmania.
Hingga kini, The Jakmania dikenal sebagai pendukung militan Persija. Mereka seolah mewarisi semangat para pendahulunya yang kini mulai tutup usia.
Siap saja pendahulu The Jakmania sebagai pendukung Persija? INDOSPORT paparkan secara singkat dan ringan beberapa pendukung Persija dari lahir hingga saat ini,
1. VIJ’ers, Sejarah Awal Pendukung Setia Macan Kemayoran
Lahir dari kawasan tengah kota di Tanah Abang, VIJ memang memobilisasi masa dengan pendukung dari warga sekitar. Totalitas VIJ'ers tak bisa dianggap remeh. Tahun 1934, VIJ'ers pernah menguasai kandang PPVIM Meester Cornelis di Lapangan Kebon Pala, Jatinegara.
Masih di tahun yang sama, beberapa VIJ'ers pun pernah datang langsung ke Tasikmalaya guna mendukung VIJ. Walau cuma 3 orang kehadiran VIJ'ers ke Tasikmalaya cukup membantu VIJ yang kala itu menghadapi Persig Tjiamis, Persitas Tasikmalaya dan SVC (klub anggota Persitas).
VIJ’ers akhirnya tak terdengar lagi kabarnya seiring dengan pergantian nama VIJ menjadi Persja pada tahun 1942 dan 1950. Setelahnya, Persija tetap punya pendukung setia yang lahir dari turun temurun.
2.Warga Ingin Saksikan Bintang-bintang Persija era 1950-an hingga 1970-an
Tahun 1950-an, gairah warga Jakarta untuk saksikan kiprah Tan Liong Houw dkk, tetap tinggi. Stadion Ikada masih dipenuhi oleh warga Jakarta terutama saat pertandingan-pertandingan penting Persija.
Era 1960-an dan 1970-an tak berubah maknanya. Apalagi, Persija masih dihuni oleh pemain-pemain bintang nasional. Pendukung Persija 1970-an cukup banyak. Rata-rata mereka ingin melihat skill tinggi para pemain Persija.
Penonton Jakarta sempat membludak saat pertandingan penentuan juara tahun 1973, antara Persija melawan Persebaya. Warga kota menyambut gembira kemenangan Persija. Majalah Tempo sampai mengangkat headline kemenangan Persija dengan judul 'Hadiah untuk Warga Kota'.
3. Tahun 1980-an, Lahirnya PFC dan The Jakmania
Tahun 1980 prestasi Persija mengalami penurunan. Bahkan Persija hampir terdegradasi pada tahun 1985. Setelah selamat dari degradasi, Persija membangun kekuatan di bawah kendali Ketua Umum Ir. Todung Barita Lumbanraja.
Saat final tahun 1988, warga Tanah Abang dan Kebon Jeruk dengan atribut merah-merah khas Persija mendukung Macan Kemayoran di tengah lautan hijau Persebaya yang memenuhi Stadion Utama Senayan. Namun Persija gagal jadi juara.
Era 1990-an prestasi Persija kembali terpuruk. Namun, pengurus Persija memutar otak untuk mengambil hati warga Jakarta dengan kembali menghidupkan Persija Fans Club pada tahun 1994. Sayanganya, prestasi Persija yang tak mentereng, membuat konsep PFC seperti gagal total. PFC pub bubar dengan sendirinya.
Titik balik pendukung Persija terjadi pada 19 Desember 1997. Saat itu, 40 anak muda Jakarta sepakat untuk mendirikan wadah suporter kreatif bagi Persija. Nama The Jakmania pun dipilih dan dengan cepat menyebar ke sendi-sendi warga Jakarta.
Tak ayal, dengan prestasi Persija yang kembali menanjak, The Jakmania pun kebanjiran anggota. Mulai dari ratusan anggota hingga kini mencapai ribuan, suporter yang identik dengan warna oren itu terus menggelorakan dukungan untuk Persija.
Hingga kini, di usia 19 tahun, The Jakmania sudah menjadi bagian tak terpisahkan kota Jakarta. Sebagai warga Jakarta, The Jakmania masih terus berkomitmen untuk mendukung dengan setia, klub sepakbola pribumi pertama di Ibu Kota, yakni Persija.