Kapten Timnas Afghanistan Datang ke Indonesia, Apa yang Salah dengan Liga Afghanistan?

Sabtu, 7 Januari 2017 17:04 WIB
Editor: Joko Sedayu
 Copyright:

Memang benar, dirinya tidak langsung pergi dari Kabul, tempat kelahirannya, menuju Malang. Faysal sejatinya pernah bermain di Liga Malaysia bersama dengan Pahang FA selama setengah musim, terhitung dari Juli 2016 hingga awal bulan ini.

Namun, keberadaan sang kapten Timnas Afghanistan di Asia Tenggara memunculkan beberapa pertanyaan, seperti mengapa dirinya bermain di kompetisi Asia Tenggara. Padahal bila melihat ranking FIFA saat ini, sepakbola Afghanistan berada jauh di atas sepakbola Indonesia serta Malaysia.


Faysal saat berseragam Timnas Afghanistan

Bila ranking Afghanistan saat ini bercokol di angka 146, maka Indonesia yang berada di angka 171 dan Malaysia di angka 161 bukanlah tolok ukur yang pas untuk kapten Timnas Afghanistan tersebut bermain. Melihat data itu, seharusnya Faysal mengikuti kompetisi liga di negaranya sendiri, yaitu Liga Primer Afghanistan.

Datangnya Faysal jauh-jauh ke Asia Tenggara bukan tanpa alasan. Di negaranya, Liga Primer Afghanistan dinilai kurang kompetitif dibanding liga Malaysia atau pun liga Indonesia. Hal itu dapat dilihat dengan jumlah tim yang ikut serta dalam kompetisi tersebut.

Liga Primer Afghanistan, atau biasa disebut Liga Primer Roshan, diselenggarakan hanya di Ibu Kota Afghanistan, Kabul. Pasalnya beberapa tempat di Afghanistan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan kompetisi sepakbola.


Banner Liga Primer Roshan pada sebuah pertandingan

Alasannya adalah terjadinya perang saat ini. Seperti yang diketahui, pasukan militer Afghanistan masih terus memburu pasukan-pasukan Taliban dan ISIS yang masih tersisa di tanah Afghanistan.

Informasi dari VOA Indonesia menyebutkan, pada tahun 2016 sendiri setidaknya terdapat 30 ribu orang tewas di Afghanistan. Sebagian besar dari jumlah tersebut adalah para pemberontak dari Taliban. Hal inilah yang membuat kompetisi Liga Primer hanya berfokus di ibu kota saja, demi keamaan para pemain dan penonton.


Banyaknya korban berjatuhan menjadikan kompetisi sepakbola Afghanistan berpusat di 1 kota

Dengan terpusatnya lokasi kompetisi Liga Primer Roshan, otomatis sedikit pula tim yang mengikuti kompetisi tersebut. Tercatat hanya 8 tim yang mengikuti kompetisi Liga Primer Roshan.

Hal ini juga yang membuat kompetisi tidak berjalan secara kompetitif. Terhitung, sejak diadakannya kompetisi Liga Primer Roshan pada tahun 2012, hanya ada 3 tim yang mampu menjuarai kompetisi tersebut, di antaranya Shaheen Asmayee FC (3 kali juara), Toofan Harirod FC (1 kali juara), dan De Spinghar Bazan FC (1 kali juara).

Selain itu juga, bila ditelaah lebih lanjut, para pemain Timnas Afghanistan yang sekarang juga terpecah ke beberapa negara di Eropa. Salah satunya adalah penyerang Afghanistan dengan raihan 5 golnya di Timnas Afghanistan, Khaibar Amani, yang bermain di klub divisi 5 Liga Jerman, Hessen Dreieich.

Khaibar Amani (kiri) saat bermain bersama Dreieich

Tidak hanya itu, terdapat juga penyerang Mustafa Zazai yang kini bermain di klub divisi 4 Liga Jerman, Neustrelitz. Oleh karenanya, tidak mengherankan bila Faysal Shayesteh pergi jauh dari Afghanistan ke Indonesia untuk memperdalam ilmu sepakbolanya di kompetisi yang lebih kompetitif.

748