Mantan winger Barito Putera itu sebenarnya punya kemampuan dan skill untuk bermain di posisi sayap. Tapi, karena hitung-hitungan regulasi terpaksa keputusan berat itu diambil.
Awalnya, regulasi menyebutkan bila setiap tim harus menurunkan tiga pemain berusia 23 tahun masuk dalam pemain inti. Namun saat menerima panduan dari operator kompetisi ternyata ada kebijakan berbeda.
"Ternyata pemain maksimal kelahiran 1 Januari 1995 atau berusia 22 tahun, sehingga memaksa kita harus mengubah kebijakan transfer," jelas Sekretaris Tim SFC, Ahmad Haris saat dikonfirmasi Minggu (05/02/17) siang.
Kiper utama Sriwijaya FC, Teja Paku Alam.Hal ini tentu merusak skema yang selama ini telah disusun rapi. Tadinya, jajaran pelatih sudah memperhitungkan satu kursi untuk pemain usia muda itu.
Dalam perhitungan sebelumnya, tiga pemain ini bisa saja Teja Paku Alam, Zalnando, Manda Cingi, atau salah satu pemain lainnya.
Dari tiga pemain ini, satu posisi yang paling vital tak tergantikan yakni Teja Paku Alam untuk usia pemain muda. Tapi regulasi menyebutkan bila Teja sudah masuk kategori pemain senior karena sudah berusia 23 tahun.
Bila Teja masuk dalam pemain senior, maka otomatis akan mengurangi slot pemain senior di lapangan hijau, yang berjumlah lima orang. Itu karena tiga pemain lagi di starting sudah pasti milik pemain asing.
Salah satu pemain muda andalan SFC, Ichsan Kurniawan.Hitung-hitungan inilah yang kemudian membuat jajaran pelatih harus putar otak dan terpaksa harus batal merekrut Dedi yang berusia 29 tahun atau termasuk pemain senior, karena juga bakal jarang turun.
"Pemain U-23 awalnya ada 10 orang, namun berkurang dua karena regulasi tersebut. Dari jumlah delapan pemain yang ada, dua di antaranya penjaga gawang dan satu tengah cedera yakni Ichsan Kurniawan," kata Ahmad Haris.
"Karena kondisi ini maka diputuskan kita batal merekrut Dedi Hartono dan fokus mencari satu pemain yang bisa mengisi kuota U-23 untuk kompetisi nanti," sambungnya.