Padahal kekalahan itu membuat rekor tak pernah terkalahkan di dua uji tanding sebelumnya harus berakhir. Kendati demikian, Subangkit tidak terlalu mempermasalahkan hasil akhir, ia bahkan menyebut jika Laskar Mahesa Jenar sudah lebih baik dari sebelumnya.
Di pertandingan itu, Subangkit menilai jika Johan Yoga dan kawan-kawan mampu menciptakan sejumlah peluang dan meladeni perlawanan Pesut Etam, julukan PBFC. Namun justru di situlah pelajaran harus dipetik, yakni menyoal finishing touch.
"Saya melihat permainan kami malam ini tidaklah buruk. Bahkan lebih baik dibanding dua uji coba sebelumnya. Lagi-lagi finishing touch yang masih perlu pembenahan," terang Subangkit seusai laga.
Selain itu, nilai positif PSIS adalah mengenai mental dan fisik para pemainnya. Subangkit menilai jika anak asuhnya bisa bermain lebih stabil selama 90 menit.
Ada pun kekalahan lebih disebabkan pada konsentrasi yang kolaps di beberapa momen tertentu, termasuk di gol akrobatik Lerby Eliandry. Komunikasi yang tidak berjalan seperti semestinya membuat pertahanan PSIS kerap mudah ditembus.
"Para pemain belakang belum tune-in tadi, masih miss komunikasi. Jadi salah antisipasi serangan yang datang dari sayap," kata Subangkit lagi mengevaluasi kinerja timnya.