Arema FC memang gagal mencapai target mencuri gol atau poin dalam pertandingan leg pertama semifinal Piala Presiden 2017. Bertanding di markas Semen Padang, Arema FC takluk melalui gol tunggal Marcel Silva Sacramento lewat titik penalti di menit ke-58.
Hadiah titik putih sendiri muncul akibat satu pelanggaran Hanif Sjahbandi, saat berusaha menghentikan laju Rudi yang mencoba meneruskan umpan terobosan Riko Simanjuntak. Marcel menjalankan tugasnya dengan baik, dan skor tetap bertahan hingga bubar.
Hanif sendiri enggan untuk terus larut dalam kesalahannya. Anak muda kelahiran Pluit, Jakarta Utara itu pun bersikap dewasa dengan mengakui pelanggarannya yang menarik baju Rudi hingga gelandang Semen Padang itu tersungkur di kotak penalti.
"Memang itu pelanggaran. Tapi saya anggap saya sedang apes saja," ungkapnya saat dihubungi INDOSPORT.
Kedewasaan alumni terbaik SSB Manchester United saat masih berusia 12 tahun itu juga ditunjukkan dengan tidak melakukan protes secara berlebihan kepada Wasit Fariq Hitaba, yang memberi hadiah penalti kepada Semen Padang, serta mengganjarnya dengan kartu kuning.
"Saya percaya wasit sudah berusaha (memimpin pertandingan) dengan baik. (Kepemimpinannya) juga cukup fair," sambungnya.
Terlepas dari gol lawan akibat pelanggarannya, Hanif menilai dia dan rekan setimnya sudah berjuang maksimal sepanjang 90 menit.
"Sayangnya kita apes, beberapa peluang juga tidak menjadi gol di babak kedua", paparnya.
Tim berlogo kepala singa memang setidaknya punya sampai tiga peluang emas di akhir babak kedua. Namun, percobaan shooting dari Cristian Gonzales dan dua dari Arif Suyono menemui tembok tebal lini pertahanan Semen Padang maupun melenceng dari gawang Muhamad Ridwan.