Serie B Italia masih menyisakan 7 pertandingan lagi, dan dua tim teratas akan lolos otomatis ke pentas tertinggi sepakbola Italia, Serie A. Salah satu dari dua klub tersebut adalah S.P.A.L.
Bernama lengkap Societa Polisportiva Ars et Labor (S.P.A.L atau biasa disingkat SPAL), tim yang berlokasi di Ferrara, Emilia-Romagna itu hingga pekan ke-35 Serie B mantap menempati posisi puncak dengan 64 poin. Di bawahnya ada Frosinone dengan poin 62.
Mungkin masih banyak yang belum mengenal tim besutan Leonardo Semplici tersebut. Namanya boleh saja kalah tenar dengan tim-tim Italia di kasta ke-2 seperti Perugia, Bari, Novara, Vicenza, Ternana, atau bahkan Brescia yang pernah dibela Pep Guardiola dan Roberto Baggio.
SPAL bertanding melawan Inter Milan bulan Maret kemarin.Maklum saja, terakhir kali mereka bermain di pentas tertinggi sepakbola Italia adalah pada musim 1967/68 silam, di mana mereka harus terdegradasi ke Serie B usai finis di peringkat ke-14 dari 16 klub. Padahal 7 musim sebelumnya tim berjuluk Estensi itu berhasil meraih prestasi terbaiknya di Serie A dengan duduk di posisi 5 klasemen akhir.
Total, mereka meghabiskan 21 musim di liga tertinggi di Italia. Sebanyak 14 tahun lainnya dihabiskan di Serie B dan Serie C. Lalu dilanjutkan dengan bermain di kasta ke-3 dan ke-4 Liga Italia selama berpuluh-puluh tahun, sebelum akhirnya pada musim 2015/16 tim yang bermarkas di Stadio Paolo Mazza promosi ke Serie B lagi usai memenangi kompetisi Lega Pro.
Didirikan oleh Pendeta
SPAL didirikan pada tahun 1907 lalu dengan nama Circolo Ars et Labor oleh pendeta Salesian bernama Pietro Acerbis. Tahun 1913, namanya berganti menjadi Societa Polisportiva Ars et Labor yang bertahan hingga sekarang.
Musim pertamanya bermain di Serie A adalah pada tahun 1920. Mereka bertahan di pentas tertinggi Liga Italia selama lima tahun, yakni sampai 1925.
SPAL kembali ke Serie A tahun 1951 dan terus bertahan cukup lama, yakni sampai 1968. Di era 50-an sampai 60-an itulah prestasi terbaik SPAL terjadi, yaitu pada musim 1959/60.
Pernah Bangkrut Dua Kali
Terpuruknya SPAL di divisi guram membuat kondisi finansial klub bermasalah. Sepinya sponsor dan minimnya penonton yang hadir di Paolo Mazza, markas kebanggan mereka yang berkapasitas tak lebih dari 10 ribu penonton menjadi faktor kuat kebangkrutan SPAL awal 2000-an.
Selebrasi para pemain SPAL usai mengalahkan Carpi di markas mereka, Stadio Paolo Mazza.Pada tahun 2005, SPAL resmi dinyatakan bangkrut dan berganti nama menjadi Spal 1907. Kondisi keuangan sempat stabil namun masih dalam batas merah, sehingga kebangkrutan ke-2 terjado 7 tahun kemudian.
Musim panas 2012, nama klub berubah lagi menjadi Societa Sportiva Dilettantistica Real S.P.A.L (S.S.D Real S.P.A.L) dan memulai segalanya dari Serie D (sama seperti Parma yang harus turun ke Serie D karena bangkrut).
Merger dengan Klub Lain
Satu tahun setelah berganti nama menjadi Real SSD SPAL, atau jelang berakhirnya Serie D musim 2012/13, sejarah baru kembali tercipta. Giacomense, sebuah klub yang dibentuk pada tahun 1967 di kawasan Masi San Giacomo, pindah markas ke Kota Ferrara, tempat di mana SPAL berada. Ingin menciptakan satu klub yang lebih kokoh dari berbagai sisi, keduanya akhirnya melakukan merger.
Pemilik Giacomense, Roberto Benasciutti mendeklarasikan kesepakatan dengan keluarga Colombarini untuk melakukan merger dengan SPAL. Ia lalu mengirimkan surat kepada SPAL untuk meminta klubnya tetap bermain di Ferrara sementara waktu sebagai bentuk formalitas.
Akhirnya, pada bulan Juli 2013, keduanya resmi merger dan kembali berganti nama menjadi S.P.A.L 2013. Manajemen klub beralasan ingin mengembalikan sejarah sepakbola SPAL.
Hebatnya, di tahun itu mereka mengakhiri musim 2013/2014 di posisi ke-6, dan semusim berikutnya berlaga di Lega Pro (setingkat Serie C). Musim 2015/16, mereka menjuarai Lega Pro dan lolos ke Serie B setelah terakhir kali merasakan kompetisi profesional di sana musim 1992/93.