Liga Inggris musim 2016/17 bisa dikatakan sebagai salah satu yang terbaik bagi Tottenham Hotspur. Performa impresif anak asuh Mauricio Pochettino berhasil membuat mereka terus menempel Chelsea hingga pekan ke-33.
Kemenangan 4-0 atas Bournemouth akhir pekan kemarin, di tambah kekalahan Chelsea atas Manchester United di pertandingan lain membuat jarak antara Spurs dengan The Blues kini hanya terpait empat poin saja.
Sayang, penampilan ciamik gagal ditularkan di pentas Liga Champions. Tergabung bersama AS Monaco, CSKA Moscow dan Bayer Leverkusen di Grup E, Harry Kane dan kawan-kawan hanya sanggup raih dua kemenangan, satu imbang dan tiga kalah.
Skuat Tottenham saat berlaga di leg pertama babak 32 besar melawan K.A.A GentKegagalan tersebut membuat mereka hanya menempati posisi ke-3 di bawah Leverkusen. Alih-alih bisa memperbaiki performa di Liga Europa, The Lilywhites justru dibungkam oleh perlawanan sengit K.A.A Gent.
Di babak 32 besar, wakil asal Belgia itu sanggup benamkan asa Spurs untuk berbicara lebih banyak dengan agregat 3-2. Hasil tersebut diraih lewat dua leg, di mana keunggulan 1-0 di pertemuan pertama gagal dikejar oleh Tottenham di White Hart Lane.
Rasa sesal tentu saja dialami oleh semua penggawa Tottenham, terlebih suporternya, yang berharap tim kesayangannya bisa berbicara banyak di pentas Eropa. Padahal Dele Alli cs memainkan laga-laga di Eropa musim ini di Wembley, stadion kebanggaan rakyat Inggris.
Untuk itulah Piala FA bakal dimanfaatkan betul oleh Spurs untuk mengobati kegagalan mereka di Liga Champions dan Liga Europa. Berhasil merebut satu tempat di semifinal, laga berat menanti Pochettino tatkala Chelsea menjadi lawan timnya Sabtu 22 April 2017 mendatang.
Perjalanan tim yang dikenal dengan basis suporter Yahudinya itu di Piala FA musim ini terbilang mulus. Maklum saja, sejak putaran ketiga hingga 8 besar, tim yang mereka hadapi relatif mudah.
Berikut ini INDOSPORT akan mengupas perjalanan Tottenham Hotspur di Piala FA 2016/17:
Putaran Ketiga -- Aston Villa (2-0)
Menjamu The Villans dengan kepercayaan diri tinggi berkat keberhasilan mereka mengentikan rekor kemenangan Chelsea di laga sebelumnya, Tottenham berhasil membungkam lawannya dengan skor 2-0.
Kendati demikian, tim tamu justru sanggup memaksa Spurs tak berkutik di babak pertama. Sengitnya laga tersebut sampai nyaris membuat Vincent Janssen dan kawan-kawan frustasi karena urung mendapatkan kesempatan sama sekali.
Bahkan Villa-lah yang memiliki satu-satunya peluang on target di laga tersebut. Adalah Leandro Bacuna yang hampir membuat publik White Hart Lane membisu. Son Heung-min sempat mengancam lewat tendangannya yang berbelok arah akibat mengenai kaki Jordan Amavi di pengujung babak pertama.
Permainan terbaik Spurs baru terlihat di babak kedua. Baru satu menit laga berjalan, peluang on target mereka dapatkan lewat upaya Son, pun dengan peluang emasnya di menit ke-62 yang masih mampu dimentahkan oleh kiper Johnstone.
Beruntung Ben Davies membuka keran gol di laga tersebut yang juga adalah gol pertamanya bagi Tottenham di menit ke-71. 9 menit berselang, Son akhirnya mengakhir rasa penasarannya usai berhasil mengecoh pertahanan lawan menerima umpan matang Sissoko.
Putaran Keempat -- Wycombe (4-3)
Menghadapi lawan dari League Two atau divisi ke-4 Liga Inggris, Wycombe, Spurs nyaris saja dibuat malu. Bagaimana tidak, mereka sempat tertinggal lebih dulu 2-0 oleh lawannya meski bermain di White Hart Lane.
Di laga tersebut, Pochettino mencoba bereskperimen dengan mengganti sekitar 9 pemain utamanya dengan tim pelapis. Mungkin inilah yang menyebabkan Tottenham nyaris tumbang.
Tak ingin tertunduk malu, Janssen akhirnya dimainkan di babak kedua. Hasilnya lumayan, permainan The Lilywhites semakin lebih baik dan berkembang, meski harus menunggu hingga menit ke-60 untuk memperkecil ketertinggalan.
Kehadiran Janssen benar-benar membawa berkah bagi Tottenham. Gol kedua lahir berkat usahanya lewat titik putih, skor 2-2 membuat tensi pertandingan menjadi lebih seru.
Di saat tuan rumah tengah mendapat momentum, kubu White Hart Lane justru dikejutkan oleh gol ketiga tim tamu di menit ke-83. Garry Thompson membawa Wycombe kembali unggul 3-2 lewat sundulannya.
Saat suporter Tottenham was-was menanti hasil akhir dan beberapa siap meninggalkan stadion, Dele Alli menjadi penyelamat berkat gol penyama kedudukan di laga tersebut. Memanfaatkan blunder pemain bertahan Wycombe, Alli membawa magis di depan puluhan ribu pendukungnya.
Keseruan belum berakhir di situ saja dan wasit urung meniupkan peluit panjang tanda pertandingan usai. Son Heung-min menjadi penyelamat muka timnya berkat golnya di detik-detik akhir pertandingan.
Putaran Kelima -- Fulham (3-0)
Harry Kane menjadi bintang utama di laga melawan sesama tim London, Fulham. Unggul 3-0, penyerang Tim Nasional Inggris itu memborong semua gol yang tersaji di Stadion Craven Cottage.
Sebelum memulai laga ini, Spurs sempat diragukan bisa menampilkan permainan terbaiknya. Bukan karena lawannya yang kuat, melainkan bayang-bayang akan hasil buruk kembali menimpa mereka.
Sebab, kepercayaan diri Hugo Lloris cs sedang buruk-buruknya usai menelan dua kekalahan mengecewakan kontra Liverpool (2-0) dan Gent (1-0). Hal itu membuat manajer Mauricio Pochettino di laga ini hanya melakukan sedikit rotasi dalam Starting XI.
Tapi semua keraguan sirna seketika tatkala Spurs langsung menggebrak dengan sudah membuat dua peluang emas di lima menit pembuka melalui Christian Eriksen dan Alli. Gawang Fulham yang dijaga Marcus Bettinelli akhirnya jebol di menit ke-16 ketika crossing Eriksen mampu disambut dengan mudah oleh Kane.
Di babak kedua, Kane menambah dua gol lagi, masing-masing di menit ke-51 dan 73. Unggul 3-0, Pochettino memutuskan menggantinya dengan Sissoko dua menit setelah gol ketiga Kane.
Di sisa pertandingan, tak ada gol lagi baik itu dari The Lilywhites mau pun The Cottagers. Hattrick Kane membawa Tottenham lolos ke perempatfinal, di mana tim London lainnya, Millwall sudah menanti.
Putaran Keenam -- Millwall (6-0)
Ketika drawing mempertemukan kedua tim ini, awalnya banyak yang menilai jika Tottenham Hotspur bakal kesulitan mengalahkan Millwall. Faktor non-teknis seperti keganasan suporter tim tamu menjadi faktor kuatnya terlepas dari kualitas mereka yang dua tingkat di bawah The Lilywhites.
Kekhawatiran semakin menjadi-jadi setelah Harry Kane terlihat tertatih-tatih di awal-awal babak pertama akibat benturan dengan salah satu pemain tim tamu. Namun demikian, Pochettino bisa lega tatkala Cristian Eriksen membuka keran gol Spurs di menit 31.
Babak pertama akhirnya berakhir dengan keunggulan tuan rumah 2-0 berkat aksi memukau Son Heung-min. Meliuk-liuk dari sektor kanan usai menerima umpan pendek Dele Alli, winger asal Korea Selatan itu berhasil mengecoh King.
Di babak kedua, Son sanggup menambah dua gol lagi, masing-masing di menit 54 dan 90. Alli dan Janssen ikut sumbangkan masing-masing satu gol sehingga membuat skor akhir menjadi 6-0.
Semifinal
Setelah mencetak 15 gol dan kebobolan hanya tiga kali sejak putaran ketiga hingga keenam, pasukan The Lilywhites akhirnya sampai di laga semifinal. Chelsea yang menjadi lawannya di babak ini tentu merupakan lawan terbear sebelum (jika lolos) di final.
Seperti disebutkan di awal, Spurs adalah pesaing terdekat Chelsea di arena liga. Oleh karena itu, tekad Antonio Conte untuk mengawinkan gelar EPL dengan Piala FA akan menemui jalan terjal. Sebaliknya, Tottenham bakal berupaya keras mengamankan, setidaknya, trofi FA andai Liga Inggris gagal mereka dapatkan.
Musim ini, kedua tim sudah bertemu sebanyak dua kali, dan masing-masing tim saling mengalahkan. Di pertemuan pertama, tepatnya bulan November tahun kemarin, The Roman Emperor yang tengah berjaya kala itu sanggup benamkan The Lilywhites dengan skor tipis 2-1.
Spurs berhasil membalasnya dengan skor yang lebih baik, yakni 2-0 di White Hart Lane. Dua gol kemenangan dilesakkan oleh Dele Alli masing-masing menit 45 dan 54.
Perkiraan Susunan Pemain
Pochettino jelas sangat bersyukur memiliki skuat lapis pertama dan kedua sama baiknya. Ditinggal Erik Lamela, Harry Winks, dan Danny Rose yang cedera, manajer yang akrab disapa Poch itu tidak terlalu pusing karena penggantinya dinilai cukup kuat.

Ben Davies kena berkahnya. Berposisi sebagai bek kiri, absennya Rose sanggup ditambal dengan sangat baik oleh pemain berusia 23 tahun asal Wales tersebut. Sedangkan Belum konsistennya Victor Wanyama mampu digantikan dengan Dier, bek tengah yang bertransformasi sebagai gelandang bertahan.
Trio ESA (Eriksen, Son, Alli) menjadi senjata utama Spurs musim ini. Peran ketiganya seakan melupakan bahwa Lamela masih berstatus pemain Tottenham. Lamela sendiri diketahui cedera panjang dan akan melewatkan semua laga sisa musim ini.
Player to Watch
Muda dan berbahaya. Itulah gambaran dari seorang Dele Alli. Pemain berusia 21 tahun tersebut menjadi salah satu andalan The Lilywhites musim ini. Dari 31 penampilannya, ia telah mengoleksi 16 gol dan 7 assists.

Senjata utamanya terletak dari bagaimana ia bisa membaca permainan dan melakukan manuver ke daerah terlarang. Selain itu, ia bisa menjaga ritme pertandingan serta memiliki visi mumpuni dalam melihat ke mana bola harus diarahkan.
Prestasi Terbaik
Sejak keikutsertaannya di Piala FA, Spurs telah mengantongi 8 gelar juara. Terakhir kali, mereka berhasil keluar sebagai yang terbaik adalah di musim 1990/91. Kala itu mereka mengalahkan Nottingham Forest dengan skor 2-1.

Pertama kali Tottenham memenangi Piala FA adalah tahun 1901. Di final tersebut, laga harus ditentukan melalui replay menyusul hasil imbang 2-2 di pertemuan pertama. Di laga replay, suntingan Cameron, Smith dan Brown bawa Spurs ungguli Sheffield United 3-1.
Kendati begitu, salah satu momen terbaik mereka di Piala FA bisa dikatakan terjadi tahun 1961 dan 1962. Tottenham berhasil memenangi Piala FA selama dua kali berturut-turut.