Dilihat dari materi pemain, tentu tidak ada yang meragukan kapasitas Borneo FC untuk dapat bersaing di papan atas Gojek Traveloka Liga 1. Namun nyatanya, tim berjuluk Pesut Etam itu masih terbenam di papan bawah klasemen di urutan ke-13 dengan 17 poin.
Musim ini, Borneo FC dihuni sederet nama pemain kelas nasional seperti Leonard Tupamahu, Ponaryo Astaman sampai Lerby Eliandry. Belum lagi deretan penggawa asingnya, termasuk Shane Smeltz, marquee player andalan Timnas Selandia Baru.
|
Baca juga: |
|---|
"Yang harus di resapi oleh setiap pemain, yaitu sepakbola harus dimainkan dengan passion untuk menunjukkan karakter kuat," kata Djukanovic, pelatih berkebangsaan Montenegro.
Performa Borneo FC pun naik turun dengan belum menemukan konsistensi dalam perolehan angka. Dragan Djukanovic, pelatih BFC, membeberkan alasan mengapa tim yang bermarkas di Stadion Segiri Samarinda, Kalimantan Timur itu kurang gereget musim ini.
Pelatih Pusamania Borneo FC (PBFC) Dragan Djukanovic terus kritisi kinerja wasit di TSC 2016."Pemain lupa dengan hal itu. Mereka bermain tanpa determinasi dan daya juang tinggi. Padahal, mentalitas dan passion harus dimiliki untuk meraih kemenangan," tambahnya lagi mengevaluasi tim asuhannya pasca dikalahkan Persela Lamongan 1-3, beberapa hari lalu.
Mentalitas juara memang sama sekali belum terlihat pada diri Terens Puhiri dan kawan-kawan. Musim ini, Borneo FC menjadi tim jago kandang dengan menyapu bersih lima laga home-nya dengan poin penuh.
Sebaliknya, Borneo hanya mengais dua angka dari hasil imbang serta enam kali kalah saat menjalani laga away.
Aksi Terens Puhiri saat berebut bola dengan pemain Barito Putera."Kalau diibaratkan, tim ini seperti singa saat bermain home. Perjuangan tinggi pemain tampak bagus untuk mengejar tiga poin," paparnya.
"Sementara saat away, kami bermain buruk seperti tikus. Masalah tim ini adalah pada hal karakter, dan itu menjadi tugas kami selanjutnya," imbuhnya.