Mengintip Aroma 'Samurai' di Belakang Brunei
Takao Fujiwara mengambil alih pengembangan sepakbola Brunei Darussalam pada tahun 2016 silam. Pria asal Jepang ini menjadi wakil dari JFA yang diamanatkan membantu perkembangan sepakbola Brunei.
Fujiwara sendiri sempat kaget dengan iklim olahraga dan sepakbola di Brunei saat pertama kali menangani program ini. Fujiwara sempat menyebut bahwa olahraga dan sepakbola tak begitu populer di negeri ini.
Pengembangan Sepakbola Brunei yang bekerja sama dengan Jepang."Saat itu saya beranggapan bahwa masyarakat Brunei menganggap sepakbola sebagai sebuah hiburan dibandingkan dengan olahraga oleh para pemain dan orangtua mereka. Pola pikir yang mendasar bagi warga Brunei adalah belajar tekun untuk mendapatkan kehidupan yang mapan dengan menjadi pegawai pemerintahan, 70 persen warga Brunei menjadi tenaga di instansi pemerintahan," tulis Fujiwara dalam laporannya untuk JFA.
Para pemain muda bahkan disebut kekurangan fasilitas bermain dan latihan. Pasalnya, sejumlah lahan kosong di Brunei lebih diprioritaskan untuk menjadi kantung parkir atau pusat perbelanjaan.
Pengembangan Sepakbola Brunei yang bekerja sama dengan Jepang.Hal ini membuat Fujiwara sempat kebingungan mencari bibit unggul di Brunei. Anggapan bahwa sepakbola adalah hal yang tak penting sudah sangat mengakar di masyarakat.
"Sebagian besar warga Brunei menganggap sepakbola membuang-buang waktu belajar mereka," tambah Fujiwara.
Fujiwara tak menyerah, ia lalu melanjutkan petualangannya dengan berkeliling Brunei untuk mendapatkan tenaga yang dibutuhkannya. Hal yang pertama dilakukannya saat itu adalah membuat para pemain yang dipilihnya nyaman bermain sepakbola.