Piala AFF U-18

Mengintip Aroma 'Samurai' di Belakang Brunei

Rabu, 13 September 2017 13:19 WIB
Editor: Rizky Pratama Putra
© JFA
Pengembangan Sepakbola Brunei yang bekerja sama dengan Jepang. Copyright: © JFA
Pengembangan Sepakbola Brunei yang bekerja sama dengan Jepang.
Disiplin dan Kehormatan ala Samurai

Brunei juga tak memiliki tim sepakbola yang profesional. Hal ini membuat iklim sepakbola mereka tak terasah secara kompetitif.

Kompetisi utama di Brunei hanya diikuti oleh 10 klub. Bahkan DPMM Brunei sebagai salah satu klub milik Kerajaan Brunei, justru tidak berkompetisi di negaranya.

Sejak musim 2005/06, DPMM ikut berkompetisi di Malaysia. Setelah tiga musim merantau di negeri tetangga, DPMM kembali hijrah untuk bergabung dengan Liga Singapura.

© JFA
Pengembangan Sepakbola Brunei yang bekerja sama dengan Jepang. Copyright: JFAPengembangan Sepakbola Brunei yang bekerja sama dengan Jepang.

Hal ini cukup dikeluhkan oleh Fujiwara yang semakin bingung untuk mencari bakat pemain masa depan Brunei. Bagaimana tidak, DPMM merupakan klub terbesar dan mapan yang memiliki akademi sendiri.

Belum lagi dengan masalah kehidupan di Brunei yang memiliki kultur berbeda dengan Jepang. Fujiwara menilai kebiasaan hidup warga Brunei tak memiliki ritme secepat orang-orang Jepang.

Perpaduan inilah yang membuat Fujiwara kemudian membangun kedisplinan dan kehormatan bagi para pemainnya. Fujiwara menekankan bahwa disiplin menjadi bagian dari sebuah kehormatan.

"Orang-orang di sini memiliki kebiasaan yang buruk soal waktu, dan tidak ada satu pun pemain yang datang tepat waktu. Hal ini sempat membuat para pemain menjadi tidak nyaman, karena mereka mempertanyakan kebijakan saya yang ketat soal disiplin yang tidak mereka dapatkan sebelumnya," cerita Fujiwara.

714