In-depth

Mencari Kambing Hitam di Balik Kacau Balaunya Real Madrid Musim 2018/19

Senin, 20 Mei 2019 16:34 WIB
Editor: Coro Mountana
© Getty Images
Cristiano Ronaldo pemain terakhir yang memakai nomor punggung 7 di Real Madrid sebelum Mariano Diaz. Copyright: © Getty Images
Cristiano Ronaldo pemain terakhir yang memakai nomor punggung 7 di Real Madrid sebelum Mariano Diaz.
Hilangnya Mesin Gol

Seperti yang kita tahu, Real Madrid dalam 4 musim terakhir sangat bergantung pada produktivitas gol Cristiano Ronaldo. Berdasarkan data dari Transfermarkt, Cristiano Ronaldo selalu mampu mencetak di atas 40 dalam semusim untuk Real Madrid.

Otomatis, kepergian Ronaldo ke Juventus awal musim ini membuat Real Madrid kehilangan mesin golnya. Dan itu terbukti di mana Karim Benzema yang menjadi mesin gol Real Madrid hanya mampu mencetak 30 gol saja di berbagai ajang musim ini.

© Gonzalo Arroyo Moreno / Getty Images
Kiper Getafe, David Soria memblokir Karim Benzema yang berusaha membobol gawangnya di Coliseum Alfonso Perez 25/04/19. Gonzalo Arroyo Moreno / Getty Images Copyright: Gonzalo Arroyo Moreno / Getty ImagesKiper Getafe, David Soria memblokir Karim Benzema yang berusaha membobol gawangnya di Coliseum Alfonso Perez 25/04/19. Gonzalo Arroyo Moreno / Getty Images

Karim Benzema terbukti tidak mampu menggantikan peran dari Cristiano Ronaldo sebagai mesin gol yang bisa mencetak minimal 40 gol semusim. Pun begitu dengan Gareth Bale yang ternyata hanya mampu mencetak 14 gol saja.

Tidak adanya sosok penyerang haus gol di kubu Real Madrid membuat produktivitas menurun jauh. Di mana pada musim lalu, Real Madrid masih mampu mencetak 94 gol di LaLiga menjadi menurun pada musim ini di angka 63.

Kehilangan sosok Cristiano Ronaldo benar-benar memberi masalah yang signifikan terhadap kekuatan Real Madrid.

Mencari sosok pengganti Karim Benzema dan Gareth Bale yang terbukti gagal menjadi suksesor Cristiano Ronaldo wajib dilakukan agar bisa bangkit di musim depan.

Pergantian Pelatih yang Terlalu Masif

© Getty Images/David Ramos
Julen Lopetegui. Copyright: Getty Images/David RamosJulen Lopetegui saat masih melatih di Real Madrid.

Selain tidak adanya sosok yang menjadi mesin gol, pergantian pelatih yang terlalu masif atau sering juga memberikan masalah baru bagi Real Madrid.

Memasuki awal musim ini, Real Madrid sudah mendapatkan kabar buruk setelah pelatihnya, Zinedine Zidane mengundurkan diri.

Real Madrid pun bergerak cepat dengan membajak Julen Lopetegui dari Timnas Spanyol untuk dijadikan sebagai pelatih baru sejak 12 Juni 2018.

Namun sayang catatan Lopetegui bersama Real Madrid tidak impresif dengan hanya mampu meraih 6 kemenangan dari 14 laga.

Akibatnya, Lopetegui dipecat oleh Real Madrid untuk digantikan dengan Santiago Solari pada 30 Oktober 2018.

Namun setali tiga uang dengan Lopetegui, Solari justru membawa Real Madrid tersingkir dari Liga Champions dan Copa del Rey yang membuatnya dipecat.

© INDOSPORT
Foto wajah lesu ditampakan Santiago Solari dipinggir lapangan pada laga Liga Champions 16 besar di stadion Bernabeu, Rabu (06/03/19) Spanyol. Copyright: INDOSPORTFoto wajah lesu ditampakan Santiago Solari dipinggir lapangan pada laga Liga Champions 16 besar di stadion Bernabeu, Rabu (06/03/19) Spanyol.

Solari pun digantikan oleh Zinedine Zidane lagi sejak 11 Maret 2019 untuk menyelamatkan harga diri di sisa musim ini. Dengan kata lain untuk musim ini saja, Real Madrid telah memiliki 3 pelatih yang tentu membawa dampak negatif bagi tim.

Pasalnya berbeda pelatih, tentu beda juga strategi, pola latihan, serta pendekatan saat melatih yang membuat para pemain Real Madrid harus beradaptasi lagi.

Hal itu membuat para pemain Real Madrid kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan pelatih baru jika terus diganti oleh manajemen. Seyogyanya manajemen Real Madrid tidak terlalu masif mengganti pelatihnya karena itu akan berdampak pada peforma para pemain.

Selain dua masalah yang menjadi kambing hitam itu, sejatinya masih ada hal lain yang rasanya itulah penyebab utama kacau balaunya Real Madrid musim ini, apa itu?