In-depth

Ratu Tisha, Sekjen PSSI Paling Berprestasi sekaligus Paling Dicaci

Selasa, 14 April 2020 17:50 WIB
Editor: Prio Hari Kristanto
© Herry Ibrahim/INDOSPORT
Beragam prestasi berhasil ditorehkan Ratu Tisha semasa menjabat sebagai sekjen PSSI, tetapi di waktu bersamaan dirinya pun tak kebal dari berbagai kritikan. Copyright: © Herry Ibrahim/INDOSPORT
Beragam prestasi berhasil ditorehkan Ratu Tisha semasa menjabat sebagai sekjen PSSI, tetapi di waktu bersamaan dirinya pun tak kebal dari berbagai kritikan.

INDOSPORT.COM - Beragam prestasi berhasil ditorehkan Ratu Tisha semasa menjabat sebagai sekjen PSSI, tetapi di waktu bersamaan dirinya pun tak kebal dari berbagai kritikan. 

Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria memutuskan mundur dari jabatannya setelah tiga tahun mengabdi di federasi. Hal itu diumumkan lewat sebuah surat terbuka melalui media sosialnya.

Hal ini cukup mengagetkan banyak pihak. Namun sejatinya mundurnya Ratu Tisha sudah bisa diprediksi sebelumnya. 

Maklum, selama tiga tahun masa jabatannya, berbagai kritik kerap menimpa TIsha. Teranyar, anggota DPR sekaligus mantan pengurus PSSI, Djohar Arifin, melontarkan kritikan pedas kepada Tisha. 

Djohar menilai Ratu Tisha sebagai sekretaris jenderal PSSI dinilai semena-mena dalam menghentikan beberapa pertandingan sepak bola Indonesia. 

Kritikan atas kinerja Tisha sebetulnya bisa diperdebatkan, karena faktanya selama menjabat sebagai sekjen, sejumlah prestasi gemilang juga berhasil dicatatkan dirinya yang bahkan belum pernah dilakukan sekjen-sekjen era terdahulu. 

Hal ini pun menjadikan Ratu Tisha sebagai sekjen PSSI paling berprestasi sekaligus paling sering dikritik. 

Sekjen Berprestasi

Salah satu prestasi terbesar Ratu Tisha selama menjabat sebagai sekjen PSSI adalah membawa Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2021

Ratu Tisha bersama PSSI mampu menyelesaikan 205 dokumen sebagai syarat pengajuan bidding ke FIFA. Tepat pada 3 September 2019, FIFA pun mendapuk Indonesia sebagai tuan rumah. 

Prestasi ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah selevel Piala Dunia. 

Prestasi penting berikutnya yang ditorehkan Tisha adalah dibentuk kompetisi U-18 Elite Pro Academy (EPA) yang pertama kali kick off pada tahun 2018. 

Selama bertahun-tahun Indonesia mengalami masalah pembinaan yang serius. Ketika Ratu Tisha menjabat, hal itu pun perlahan diperbaiki

Ratu Tisha bekerja keras dan berkontribusi besar dalam memperjuangkan hadirnya EPA. Kompetisi ini pun terus berlanjut sampai tahun 2020 ini. 

Selain itu, jebolan Timnas U-16 juga mendapat kesempatan untuk menimba pengalaman di Eropa dalam program Garuda Select yang sukses besar di penyelenggaraan pertamanya. 

Selain itu, untuk pertama kalinya pula di era Tisha kompetisi Liga 1 Putri resmi digelar. Selama ini tim putri Tanah Air kerap jadi bulan-bulanan negara lain. Kompetisi internal pun diyakini jadi jalan terbaik dalam menaikan mutu pemain putri Indonesia. .

Deretan prestasi itu seakan dilengkapi dengan dirinya yang terpilih sebagai wakil presiden AFF melalui kongres luar biasa pada 22 Juni 2019. 

Ratu Tisha  mencatatkan sejarah menjadi wanita pertama yang menjabat sebagai wakil presiden AFF, tak hanya di Indonesia tetapi juga Asia Tenggara. PSSI pun mendapatkan penghargaan dari AFF. 

Di level AFC, Ratu Tisha tercatat menjadi anggota Komite Kompetisi AFC bersama 17 orang lainnya. Prestasi-prestasi seperti ini belum pernah didapatkan seorang sekjen PSSI sebelumnya, termasuk Djoko Driyono dan tentunya PSSI era kepemimpinan Djohar Arifin.

Tak Kebal Kritik

Walau melakukan banyak terobosan penting semasa menjabat sebagai sekjen, Ratu Tisha juga tidak kebal atas kritikan. Berbagai kritikan baik dari kalangan pegiat sepak bola, mantan pejabat PSSI, sampai suporter pernah menghampirinya. 

Pelatih Timnas Indonesia U-16, Fakhri Husaini, pernah merasa kecewa dengan keputusan Ratu Tisha. Hal ini dilatari oleh keputusan sekjen PSSI untuk mengubah peran Fakhri menjadi asisten Shin Tae Yong di Timnas Indonesia 

Dalam wawancara di media, Fakhri mengungkapkan kebingungannya atas hal ini karena ia menganggap dirinya bukanlah pelatih gagal selama membesut Timnas Indonesia U-16 maupun U-19. 

Buntutnya, PSSI melalui Ratu Tisha melarang Fakhri Husaini tampil di acara Mata Najwa karena khawatir urusan internal federasi dibicarakan di mata publik. 

Peristiwa lain yang membuat Ratu Tisha banjir kritikan adalah pascakeputusannya menunda pertandingan leg kedua final Piala Indonesia 2019 antara PSM Makassar vs Persija Jakarta. 

Keputusan ini diambil buntut aksi anarkis suporter tuan rumah yang melempari bus yang mengangkut pemain Persija. Ternyata hal ini memancing kecaman dari pendukung PSM karena dianggap menguntungkan tim tamu.

Sepanjang laga leg kedua di Stadion Andi Matalatta, Ratu Tisha pun disoraki oleh suporter dan bahkan berniat mengusirnya. 

Hal ini mendapat kritikan dari Sesmenpora, Gatot S. Dewa Broto. Gatot merasa penolakan yang dilontarkan suporter tak lain adalah bentuk kekecewaan atas inkonsistensi Tisha dalam mengambil keputusan.  

Sekadar informasi, walau terjadi pelemparan bus pemain, namun laga itu tetap mendapat izin keamanan untuk digelar oleh kepolisian. 

Baru-baru ini, peristiwa di atas kembali diungkit  oleh anggota DPR sekaligus mantan ketua PSSI, Djohar Arifin. Djohar menilai Ratu Tisha sebagai sekretaris jenderal PSSI dinilai semena-mena dalam menghentikan beberapa pertandingan sepak bola Indonesia. 

Tak lama setelah kritikan dari Djohar untuk dirinya dan PSSI tersebut, Ratu Tisha pun mengumumkan pengunduran dirinya dari sekjen. 

Khusus dengan suporter, pertentangan antara Ratu Tisha dengan 'pemain ke-12' tersebut sebetulnya sudah pernah terpercik saat ramai-ramai munculnya kasus mafia bola di lingkungan PSSI padatahun 2019 silam. Tisha dituding oleh sebagian suporter terlibat ke dalam pusaran kotor tersebut hingga sempat diteriaki 'Mafia'