In-depth

3 Alasan Kuat Manchester United Sebaiknya Tak Pecat Solskjaer

Kamis, 17 Desember 2020 11:45 WIB
Editor: Nugrahenny Putri Untari
© Plumb Images/Leicester City FC via Getty Images
Apakah Ole Gunnar Solskjaer masih bisa bertahan di Manchester United? Copyright: © Plumb Images/Leicester City FC via Getty Images
Apakah Ole Gunnar Solskjaer masih bisa bertahan di Manchester United?

INDOSPORT.COM - Isu bakal dipecatnya Ole Gunnar Solskjaer dari klub Liga Inggris, Manchester United, seolah tidak bisa dihilangkan dari muka bumi ini.

Topik tersebut masih saja bergulir dari hari ke hari. Meski sempat tenggelam pun, kemudian muncul lagi ke permukaan. Begitu terus seterusnya.

Manchester United sendiri baru saja mengalami hasil kurang menyenangkan dari dua pertandingan terakhirnya. Pertama, mereka dikalahkan RB Leipzig di Liga Champions.

The Red Devils terpaksa mengakui keunggulan lawannya dengan skor akhir 2-3. Hasil ini pun membuat mereka lengser ke Liga Europa dan menjadi bahan cemoohon para penggemar tim rival yang senang bukan kepalang.

Kedua, hasil imbang di Derbi Manchester tempo hari. Melawan klub satu kota di ajang Liga Inggris, Manchester City, anak-anak asuh Solskjaer hanya bisa meraih skor kacamata dan terdampar di papan tengah klasemen sementara.

Tidak ayal, pembicaraan tentang masa depan Solskjaer kembali terungkit. Apakah ia bakal pergi dari Old Trafford?

Jika melihat catatan sejarah, sejauh ini Manchester United memang belum mempunyai manajer yang bisa bertahan lama setelah era Sir Alex Ferguson. Bukan tidak mungkin pula Solskjaer akan mengikuti jejak para pendahulunya itu.

Ada kutub utara, ada pula kutub selatan, begitu pula menyoal nasib Solskjaer di Manchester United. Di tengah segudang alasan memecatnya, ada pula alasan untuk mempertahankannya. Kira-kira apa saja?

Reputasi di Manchester United

Memecat Ole Gunnar Solskjaer tentu bukan perkara gampang. Ada sedikit perasaan sentimental yang mungkin menaungi pihak klub maupun suporter sehingga tidak mudah melepasnya begitu saja.

Ya, ia adalah mantan pemain Manchester United yang begitu dielu-elukan dan dihormati, bahkan pernah jadi bagian skuat yang berjaya di musim trebel The Red Devils pada 1998-1999.

Ia juga penentu kemenangan timnya ketika bersua Bayern Munchen di final Liga Champions 1999. Tanpa tambahan golnya saat injury time, mungkin Manchester United tidak akan menjadi raja Eropa pada waktu itu.

Tentu tidak mudah bagi siapa saja terutama mereka para penghuni Old Trafford untuk melupakan jasa pria asal Norwegia tersebut.

Walaupun kenangan indah masa lalu sekilas tidak ada kaitannya dengan performa Solskjaer sebagai pelatih, tidak dapat dipungkiri bahwa sedikit perasaan sentimental itu pasti ada. Hal ini pun bisa jadi salah satu sisi positif untuk tidak memecatnya.

Akan sangat menguntungkan jika memiliki sosok pelatih maupun manajer yang mengerti betul seluk-beluk klub, mengerti prinsip di dalamnya, dan pastinya punya koneksi batin kuat karena pernah bermain di sana.

Yang perlu dilakukan adalah bersabar dan memberi Solskjaer kesempatan yang lebih besar untuk membuktikan diri, karena tidak semua hasil dapat diperoleh dengan instan.

Memperbaiki Manchester United

Memang sagat mudah larut dalam hasil-hasil negatif tapi Solskjaer tidak menjalankan tugasnya dengan buruk di Manchester United. Buktinya, musim lalu mereka berhasil finis di posisi tiga klasemen akhir Liga Inggris.

Tentu ada alasan Solskjaer bisa membawa The Red Devils sampai sejauh ini. Meski hasil yang diperoleh beraneka ragam, yang penting tim menunjukkan hasil signifikan di bawah asuhannya.

Terlebih lagi, ketika pertama datang ke Old Trafford, Solskjaer dihadapkan pada skuat peninggalan yang bisa dibilang sedikit berantakan. Ia kemudian mengambil sejumlah langkah seperti memboyong Harry Maguire dan Bruno Fernandes.

Belum lagi, berkatnya ada peningkatan apik dari sisi performa Marcus Rashford, begitu pula para pemain muda seperti Mason Greenwood dan Scott McTominay yang mulai berkembang.

Pencetak Rekor

Selama menangani Manchester United, tidak jarang Solskjaer berhasil menciptakan rekor atas namanya sendiri. Ia bahkan menyaingi sosok manajer legendaris The Red Devils sepanjang masa, Sir Alex Ferguson.

Solskjaer pernah menjadi satu-satunya manajer Liga Inggris yang memenangkan keseluruhan enam pertandingan pertamanya. Catatan ini pun melampaui pencapaian Sir Matt Busby (lima pertandingan).

Ia juga memecahkan rekor kemenangan berturut-turut terbanyak Manchester United di laga tandang. Solskjaer mencatatkan delapan sedangkan Sir Alex tujuh.

Mengganti Solskjaer saat ini sepertinya bukan keputusan bijak dan terbaik yang bisa diambil manajemen Manchester United.

Apabila ia diganti, baik oleh Mauricio Pochettino atau siapa pun itu, sang pengganti hanya akan mendapat lungsuran proyek yang belum selesai. Ya, Solskjaer masih punya tugas di Manchester United yang harus ia rampungkan.