In-depth

William Gallas, Kapten Arsenal yang Menjelma Jadi Anak Kecil Tukang Ngambek

Kamis, 21 Oktober 2021 21:42 WIB
Editor: Yosef Bayu Anangga
© Twitter @TheGoonerNation
Sempat menyandang status sebagai kapten Arsenal, bek asal Prancis William Gallas justru lebih diingat berkat aksinya yang mirip anak kecil yang ngambek. Copyright: © Twitter @TheGoonerNation
Sempat menyandang status sebagai kapten Arsenal, bek asal Prancis William Gallas justru lebih diingat berkat aksinya yang mirip anak kecil yang ngambek.

INDOSPORT.COM – Sempat menyandang status sebagai kapten Arsenal, bek asal Prancis William Gallas justru lebih diingat berkat aksinya yang mirip anak kecil yang ngambek.

Laga melawan tuan rumah Birmingham di Liga Inggris pada 2008 menjadi momen yang sulit dilupakan oleh Arsenal akibat dua peristiwa.

Peristiwa pertama adalah cedera horor yang dialami oleh Eduardo da Silva, imbas dari tekel mengerikan yang dilepaskan Martin Taylor ketika laga baru berjalan 3 menit.

Taylor sendiri kemudian diusir wasit, namun Arsenal tertinggal lebih dulu lewat gol James McFadden sebelum brace Theo Walcott membawa The Gunners berbalik unggul.

Namun, petaka kembali menimpa Arsenal di menit akhir laga. Blunder Gael Glichy membuatnya terpaksa menjatuhkan Stuart Parnaby yang berujung hukuman penalti yang dieksekusi sempurna oleh McFadden.

Hukuman penalti inilah yang kemudian menghasilkan peristiwa kedua yang sulit dilupakan oleh penggemar Arsenal.

William Gallas, yang menjabat kapten tim, meluapkan kekesalannya dengan menendang papan iklan di tepi lapangan.

Namun, aksi Gallas tak berhenti di situ. Seusai laga, ia tak mau kembali ke ruang ganti dan memilih duduk di tengah lapangan seperti anak kecil yang ngambek alias merajuk.

Tingkah konyol Gallas itu pun mendapat kecaman dari Jens Lehmann. “Bukannya berdiri di tepi kotak penalti untuk berjaga-jaga jika penalti itu gagal, Gallas malah mengabaikan timnya dan meninggalkan lapangan untuk memendang papan iklan,” kata Lehmann seperti dilansir Daily Mail.

“Setelah laga, ia tak mau meninggalkan lapangan. Dia duduk di tengah lapangan seperti anak kecil yang ngambek.”

“Di ruang ganti, ia bertengkar dengan Gilberto Silva yang menuduhnya mencari perhatian. Pertengkaran itu berlanjut hingga akhir musim.”

Gallas sendiri kemudian melontarkan pembelaannya. “Saya sangat bersemangat, dan kadang semangat itu menjadi terlalu berlebihan. Kadang hal itu membantu saya dan kadang sebaliknya.”