Piala Dunia

Presiden FIFA Bela Harga Tiket Piala Dunia 2026 yang Melambung Tinggi

Rabu, 6 Mei 2026 12:12 WIB
Editor: Redaksi
© REUTERS/Jean Bizimana
Presiden FIFA, Gianni Infantino. Foto: REUTERS/Jean Bizimana. Copyright: © REUTERS/Jean Bizimana
Presiden FIFA, Gianni Infantino. Foto: REUTERS/Jean Bizimana.

INDOSPORT.COM - Presiden FIFA, Gianni Infantino, membela kebijakan harga tiket Piala Dunia 2026 yang menuai kritik tajam. Ia menilai FIFA harus mengikuti kondisi pasar, terutama karena turnamen digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Kontroversi harga tiket semakin besar setelah situs resmi penjualan ulang FIFA menampilkan tiket final dengan harga fantastis. Empat tiket untuk laga final 19 Juli di MetLife Stadium, New Jersey, sempat dipasang hampir 2,3 juta dollar AS per tiket.

Harga tersebut langsung memicu reaksi keras dari kelompok suporter. Football Supporters Europe (FSE) menyebut struktur harga tiket Piala Dunia 2026 sebagai bentuk “pengkhianatan besar” terhadap tradisi turnamen dan para pendukung sepak bola.

FSE bersama Euroconsumers bahkan telah mengajukan keluhan resmi ke Komisi Eropa pada Maret 2026. Mereka menyoroti praktik harga tiket yang dinilai berlebihan dan tidak ramah bagi suporter biasa.

Infantino menyampaikan pembelaannya dalam Milken Institute Global Conference di Beverly Hills. Menurutnya, harga di pasar penjualan ulang tidak otomatis menunjukkan harga resmi tiket dari FIFA.

“Jika ada orang memasang tiket final di pasar penjualan ulang seharga 2 juta dollar AS, pertama, itu tidak berarti harga asli tiketnya memang 2 juta dollar AS,” ujar Infantino.

“Kedua, itu juga tidak berarti akan ada orang yang membelinya,” lanjutnya. Ia kemudian berkelakar akan membawakan hot dog dan Coke secara pribadi jika benar ada pembeli tiket final seharga 2 juta dollar AS.

Menurut Infantino, lonjakan harga tersebut mencerminkan besarnya permintaan terhadap Piala Dunia. FIFA menyebut permintaan tiket untuk edisi 2026 sudah menembus lebih dari 500 juta, jauh melampaui gabungan permintaan untuk Piala Dunia 2018 dan 2022 yang kurang dari 50 juta.

Ia juga menegaskan bahwa FIFA harus mempertimbangkan karakter pasar hiburan di Amerika Serikat. Menurutnya, Amerika Serikat memiliki pasar olahraga dan hiburan yang sangat maju, sehingga harga tiket harus mengikuti tarif pasar.

“Kami harus melihat pasar. Kami berada di pasar hiburan yang paling berkembang di dunia,” kata Infantino.

“Jadi, kami harus menerapkan harga pasar,” lanjutnya. Ia menilai jika FIFA menjual tiket terlalu murah, tiket itu tetap berpotensi dijual ulang dengan harga jauh lebih tinggi.

Infantino juga menyinggung aturan di Amerika Serikat yang memperbolehkan penjualan ulang tiket. Karena itu, FIFA merasa perlu menyesuaikan harga resmi agar selisih keuntungan tidak sepenuhnya dinikmati pasar sekunder.

“Di Amerika Serikat, penjualan ulang tiket diizinkan. Jadi jika tiket dijual terlalu rendah, tiket itu akan dijual kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Ia mengatakan sebagian tiket FIFA memang dianggap mahal oleh publik. Namun, tiket yang sama tetap muncul di pasar penjualan ulang dengan harga lebih tinggi, bahkan bisa lebih dari dua kali lipat harga resmi.

Perbandingan dengan Piala Dunia 2022 di Qatar membuat kritik semakin kuat. Pada edisi 2022, tiket final termahal memiliki harga resmi sekitar 1.600 dollar AS, sementara tiket final termahal 2026 berada di kisaran 11.000 dollar AS.

FIFA juga mendapat sorotan karena memperoleh biaya dari transaksi di platform resale resminya. Menurut laporan Associated Press yang dimuat The Guardian, FIFA menarik biaya 15 persen dari pembeli dan 15 persen dari penjual dalam transaksi di pasar penjualan ulang.

Meski begitu, Infantino menegaskan bahwa tidak semua tiket berada di kategori mahal. Ia menyebut 25 persen tiket fase grup dijual dengan harga di bawah 300 dolar AS.

Menurut Infantino, angka itu masih masuk akal untuk pasar olahraga Amerika. Ia bahkan membandingkannya dengan harga tiket pertandingan kampus atau pertandingan profesional tingkat tinggi di Amerika Serikat.

“Anda tidak bisa menonton pertandingan kampus di Amerika Serikat, bahkan belum bicara pertandingan profesional level atas, dengan harga di bawah 300 dollar AS,” kata Infantino.

“Dan ini adalah Piala Dunia,” lanjutnya. Pernyataan itu menunjukkan FIFA melihat turnamen ini sebagai produk olahraga global dengan nilai komersial sangat tinggi.

Namun, kritik dari kelompok suporter tetap tidak reda. Mereka menilai Piala Dunia seharusnya tidak berubah menjadi acara yang sulit dijangkau oleh pendukung biasa.

Harga tiket yang tinggi juga memunculkan kekhawatiran lain. Reuters melaporkan bahwa lonjakan harga tiket dan biaya perjalanan dapat meningkatkan risiko penipuan, terutama terhadap fans yang mencari tiket lebih murah di luar kanal resmi.

Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah karena diikuti 48 tim. Turnamen ini juga akan menjadi edisi pertama yang digelar di tiga negara tuan rumah sekaligus.

Bagi FIFA, skala besar turnamen dan permintaan luar biasa menjadi alasan kuat untuk menyesuaikan harga. Namun bagi suporter, Piala Dunia tetap dianggap sebagai pesta sepak bola yang seharusnya tidak kehilangan akar sosialnya.

Kontroversi harga tiket ini memperlihatkan dua sudut pandang yang sulit dipertemukan. FIFA berbicara soal pasar, permintaan, dan pendapatan global, sementara kelompok suporter berbicara soal akses, tradisi, dan hak fans untuk hadir di stadion.

Dengan turnamen yang semakin dekat, perdebatan ini kemungkinan belum akan berhenti. Piala Dunia 2026 bisa menjadi yang terbesar secara komersial, tetapi juga menjadi salah satu edisi paling diperdebatkan dari sisi keterjangkauan tiket.