INDOSPORT.COM - Keberhasilan FC Barcelona merebut gelar Liga Spanyol musim ini menandai kebangkitan baru klub Catalan tersebut. Di bawah arahan pelatih Hansi Flick, Barcelona tampil dominan sepanjang musim dan sukses mengungguli rival abadinya, Real Madrid, dalam perebutan gelar juara.
Trofi liga ke-29 itu sekaligus mempertegas bahwa Barcelona mulai menemukan kembali identitas permainan menyerang yang sempat memudar dalam beberapa musim terakhir. Blaugrana bahkan mencatat rekor sempurna di kandang dengan menyapu bersih kemenangan dan berpeluang menutup musim dengan raihan 100 poin.
Namun di balik dominasi domestik tersebut, masih ada pertanyaan besar yang belum terjawab: mengapa Barcelona tetap gagal berbicara banyak di UEFA Champions League?
Kegagalan kembali melangkah jauh di Eropa menunjukkan bahwa Barcelona masih memiliki celah yang harus diperbaiki jika ingin kembali menjadi kekuatan utama di benua biru.
Satu hal yang hampir tidak bisa dibantah musim ini adalah kualitas lini serang Barcelona. Tim asuhan Flick menjadi salah satu tim paling produktif di Liga Spanyol.
Barcelona memimpin berbagai statistik ofensif, mulai dari jumlah gol, peluang tercipta, hingga total tembakan ke gawang. Pola permainan cepat dan agresif membuat lawan kesulitan menghentikan aliran serangan mereka.
Kecepatan pemain sayap, kreativitas gelandang, dan kemampuan pemain depan memanfaatkan ruang menjadi kombinasi mematikan. Flick berhasil menghidupkan kembali DNA menyerang Barcelona dengan pendekatan modern yang lebih vertikal dan intens.
Nama-nama seperti Lamine Yamal, Pedri, Fermín López, hingga Alejandro Balde menjadi elemen penting dalam sistem tersebut.
Bahkan di Liga Champions, produktivitas gol Barcelona sebenarnya tidak buruk. Mereka mampu mencetak rata-rata 2,67 gol per pertandingan, angka yang menunjukkan bahwa lini depan Blaugrana tetap sangat kompetitif di level Eropa.
Masalah Barcelona musim ini bukan berada di lini depan.
Garis Pertahanan Jadi Pisau Bermata Dua
Gaya bermain Hansi Flick yang sangat ofensif justru menjadi sumber persoalan utama Barcelona, demikian analisa Matt Smith dari Squawka https://www.squawka.com/en/features/barcelona-la-liga-champions-analysis-europe-next-level/
Flick menerapkan garis pertahanan tinggi hampir di semua pertandingan, baik saat menghadapi tim papan bawah maupun klub elite Eropa. Barcelona bermain dengan pressing agresif dan menempatkan banyak pemain di area lawan.
Pendekatan tersebut memang membuat mereka dominan dalam penguasaan bola dan tekanan serangan. Namun konsekuensinya juga besar.
Saat kehilangan bola, Barcelona sering meninggalkan ruang kosong luas di belakang lini pertahanan. Bek sayap yang terlalu aktif menyerang membuat dua bek tengah harus menjaga area yang sangat lebar.
Kondisi ini membuat Barcelona rentan terkena serangan balik cepat. Tim-tim dengan transisi agresif mampu mengeksploitasi celah tersebut, terutama di Liga Champions.
Ketika menghadapi Paris Saint-Germain, kelemahan itu terlihat jelas. Barcelona kesulitan mengatasi kecepatan lawan dalam situasi transisi dan akhirnya kembali gagal melangkah jauh di Eropa.
Statistik juga memperlihatkan masalah tersebut. Barcelona kebobolan cukup tinggi untuk ukuran tim dominan, termasuk dari situasi fast break yang seharusnya bisa diminimalisasi dengan organisasi pertahanan lebih baik.
Situasi ini memperlihatkan bahwa gaya bermain Barcelona saat ini masih terlalu terbuka untuk kompetisi seintens Liga Champions.
Sisi Kiper Jadi Alarm Bahaya
Salah satu fakta menarik musim ini datang dari performa penjaga gawang Joan García dan Wojciech Szczęsny.
Secara statistik, Joan Garcia menjadi salah satu kiper dengan angka penyelamatan tertinggi di Liga Spanyol. Di sisi lain, Szczesny juga masuk dalam daftar kiper dengan kontribusi penyelamatan penting.
Sekilas hal itu terlihat positif. Namun dalam analisis sepak bola modern, statistik tersebut justru bisa menjadi pertanda adanya masalah defensif.
Artinya, Barcelona memberi lawan terlalu banyak peluang berbahaya. Ketika lawan berhasil menembus pertahanan mereka, peluang yang tercipta umumnya berkualitas tinggi.
Dengan kata lain, lini belakang Barcelona belum benar-benar solid meski mereka mendominasi pertandingan.
Ketergantungan terhadap performa kiper menjadi alarm penting bagi Flick. Jika ingin bersaing merebut Liga Champions, Barcelona membutuhkan keseimbangan yang lebih baik antara agresivitas menyerang dan kestabilan bertahan.
Meski masih memiliki kelemahan, masa depan Barcelona terlihat sangat menjanjikan.
Salah satu kekuatan terbesar mereka saat ini adalah usia skuad yang masih sangat muda. Banyak pemain inti Barcelona bahkan belum mencapai usia puncak karier.
Selain Lamine Yamal dan Pedri, Barcelona juga memiliki talenta muda seperti Pau Cubarsí, Marc Casadó, hingga Gavi yang terus berkembang.
Kehadiran pemain muda membuat Barcelona memiliki fondasi jangka panjang yang kuat. Mereka bukan hanya kompetitif saat ini, tetapi juga berpotensi semakin matang dalam beberapa tahun ke depan.
Pengalaman bermain di level tertinggi diyakini akan membantu skuad muda Barcelona berkembang lebih cepat. Seiring bertambahnya jam terbang, kelemahan dalam pengambilan keputusan dan organisasi permainan diprediksi akan berkurang.
Memenangi Liga Spanyol merupakan pencapaian besar bagi Hansi Flick di musim awalnya bersama Barcelona. Namun standar klub sebesar Barcelona tidak berhenti di kompetisi domestik.
Barcelona sudah lebih dari satu dekade gagal mencapai final kompetisi elite Eropa. Sejak era kejayaan Lionel Messi berakhir, Blaugrana terus berusaha membangun kembali identitas mereka sebagai penguasa Eropa.
Flick kini dinilai berhasil membangun fondasi tersebut. Akan tetapi, langkah berikutnya jauh lebih sulit: menyempurnakan sistem permainan agar mampu bertahan menghadapi tekanan dan transisi cepat di level tertinggi.
Jika mampu menemukan keseimbangan antara serangan eksplosif dan pertahanan yang disiplin, Barcelona berpotensi kembali menjadi kandidat kuat juara Liga Champions dalam beberapa musim mendatang.