Liga Inggris

Liverpool Sudah Habiskan Rp8 Triliun untuk Penyerang, Mengapa Masih Kesulitan Cetak Gol?

Selasa, 19 Mei 2026 18:53 WIB
Editor: Redaksi
© Grafis: Eli Suhaeli/INDOSPORT
Logo Liverpool. Copyright: © Grafis: Eli Suhaeli/INDOSPORT
Logo Liverpool.

INDOSPORT.COM - Liverpool kembali memasuki bursa transfer dengan ambisi besar. Setelah menghabiskan lebih dari 400 juta poundsterling atau sekitar Rp8 triliun untuk memperkuat skuad jelang musim 2025-2026, The Reds justru masih dikaitkan dengan sejumlah penyerang baru.

Sebagian besar dana fantastis itu dialokasikan untuk memperkuat lini depan melalui perekrutan Alexander Isak, Florian Wirtz, dan Hugo Ekitiké.

Namun meski telah mengeluarkan investasi besar, performa ofensif Liverpool musim ini justru belum sepenuhnya meyakinkan. 

Situasi itu memunculkan pertanyaan besar di kalangan pengamat sepak bola Inggris: apakah masalah Liverpool terletak pada kurangnya penyerang berkualitas, atau justru pada sistem permainan yang diterapkan pelatih Arne Slot?

Meski sudah memiliki sejumlah nama besar di lini depan, Liverpool disebut masih aktif memburu penyerang anyar pada bursa transfer musim panas.

Beberapa pemain yang dikaitkan dengan Anfield antara lain Bradley Barcola, Anthony Gordon, Bazoumana Touré, hingga Yan Diomande.

Nama-nama tersebut memiliki karakteristik serupa: cepat, agresif, dan kuat dalam duel satu lawan satu. Liverpool tampaknya ingin menambah kecepatan di lini serang untuk menghadapi pertahanan rapat lawan.

Namun perekrutan pemain baru dinilai belum tentu menjadi solusi utama.

Produktivitas Liverpool Menurun Drastis

Musim ini lini depan Liverpool mengalami penurunan signifikan dibanding musim sebelumnya.

Mohamed Salah yang selama bertahun-tahun menjadi mesin gol utama hanya mampu mencetak tujuh gol liga dalam musim yang disebut-sebut sebagai periode terakhirnya bersama Liverpool.

Alexander Isak juga belum benar-benar tajam sejak bergabung, sementara Florian Wirtz baru mencetak lima gol liga.

Situasi semakin sulit setelah Hugo Ekitike, yang menjadi top skor klub musim ini, mengalami cedera panjang dan dipastikan absen hingga 2027.

Jika tidak ada lonjakan gol di sisa pertandingan musim ini, Ekitike kemungkinan menjadi satu-satunya pemain Liverpool yang mencapai dua digit gol di Liga Inggris.

Padahal musim lalu Liverpool memiliki tiga pemain dengan torehan minimal 10 gol dan Salah menutup musim dengan 29 gol saat membawa klub meraih gelar Liga Inggris.

Secara statistik, Liverpool sebenarnya masih cukup agresif dalam menyerang.

Mereka menjadi salah satu tim dengan jumlah tembakan terbanyak di Liga Inggris. Namun ada satu masalah utama: kualitas peluang yang dihasilkan tidak sebanding dengan jumlah serangan mereka.

Data expected goals (xG) memperlihatkan Liverpool tertinggal dibanding beberapa rival utama mereka.

Meski menjadi salah satu tim dengan jumlah operan terbanyak dan total tembakan tinggi, Liverpool hanya berada di posisi keenam dalam statistik xG Liga Inggris musim ini.

Artinya, banyak tembakan Liverpool berasal dari situasi yang tidak terlalu berbahaya.

Kondisi tersebut menunjukkan dominasi penguasaan bola Liverpool belum benar-benar efektif dalam menciptakan peluang matang.

Sistem Arne Slot Dinilai Jadi Akar Masalah

Sorotan utama kemudian mengarah kepada pendekatan taktik Arne Slot.

Pelatih asal Belanda itu dikenal mengutamakan kontrol permainan dan penguasaan bola. Namun sistem tersebut dinilai terlalu lambat dan kurang vertikal dalam membangun serangan.

Liverpool sering memainkan bola dari sisi ke sisi tanpa cukup banyak umpan progresif ke belakang garis pertahanan lawan.

Akibatnya, lawan lebih mudah mengatur blok pertahanan mereka.

Situasi itu membuat pemain Liverpool kerap frustrasi dan akhirnya memilih melepaskan tembakan jarak jauh dibanding membangun peluang yang benar-benar bersih.

Hal ini terlihat dari statistik pemain seperti Cody Gakpo dan Dominik Szoboszlai yang mencatat jumlah tembakan tinggi, tetapi tidak selalu berasal dari peluang berkualitas.

Arne Slot sebelumnya juga mengakui Liverpool mengalami kesulitan menghadapi tim yang bermain sangat defensif atau low block.

“Perbedaan utama baginya adalah kami sekarang lebih sering menghadapi pertahanan rendah (low block). Bukan berarti hal itu tidak pernah terjadi saat dia di Newcastle, tetapi menurut saya tidak sesering sekarang. Musim ini, liga sudah berubah, kami melihat jauh lebih banyak tim bermain dengan low block dibanding musim lalu.”

Pernyataan tersebut merujuk pada adaptasi Alexander Isak yang dinilai lebih sulit berkembang di Liverpool dibanding saat bermain untuk Newcastle United.

Menurut Slot, lawan kini lebih sering bertahan dalam blok rendah sehingga ruang gerak penyerang menjadi lebih sempit.

“Namun saya melihat ini bukan hanya terjadi pada kami, saya melihat hal yang sama di banyak pertandingan. Situasi ini membuatnya lebih sulit dibanding saat dia berada di Newcastle, tetapi saya pikir ini juga soal bagaimana dia beradaptasi dengan rekan setimnya dan bagaimana rekan setimnya beradaptasi dengannya. Namun jelas dan nyata bahwa saat ini kami tidak memiliki profil pemain seperti Jacob Murphy, misalnya.”

Komentar itu sempat diartikan sebagai keinginan Slot untuk memiliki pemain cepat seperti Jacob Murphy yang bisa memberikan ancaman langsung dari sisi lapangan.

Namun eksperimen menggunakan Jeremie Frimpong di sisi kanan juga belum sepenuhnya memperbaiki produktivitas serangan Liverpool.

Butuh Perubahan Sistem, Bukan Sekadar Pemain Baru

Sejumlah analis menilai masalah utama Liverpool bukan terletak pada kualitas pemain depan, melainkan pada alur pembangunan serangan atau buildup play.

Liverpool dianggap terlalu lambat mengalirkan bola ke area berbahaya sehingga penyerang kesulitan menerima bola dalam situasi ideal.

Karena itu, mendatangkan penyerang baru tanpa memperbaiki sistem permainan hanya akan membuat Liverpool bergantung pada momen individu pemain.

Pendekatan seperti itu dianggap sulit dipertahankan dalam persaingan panjang perebutan gelar.

Klub tidak hanya dituntut aktif di bursa transfer, tetapi juga harus menemukan identitas permainan yang lebih efektif. Dengan investasi besar yang sudah dikeluarkan, ekspektasi terhadap Liverpool jelas meningkat.

Jika Slot mampu memperbaiki kecepatan buildup dan membuat lini depan lebih terhubung, Liverpool berpotensi kembali menjadi kandidat kuat juara Liga Inggris dan Liga Champions.

Namun jika masalah taktik tidak segera dibenahi, belanja besar pemain depan bisa saja kembali gagal memberikan dampak maksimal bagi The Reds.