In-depth

Inilah Alasan Mohamed Salah Adalah Pemain Terbaik dalam Sejarah Era Premier League

Selasa, 26 Mei 2026 05:50 WIB
Editor: Redaksi
© Gaston Szermann/DeFodi Images via Getty Images
Mohamed Salah dalam laga Midtjylland vs Liverpool Copyright: © Gaston Szermann/DeFodi Images via Getty Images
Mohamed Salah dalam laga Midtjylland vs Liverpool

INDOSPORT.COM - Mohamed Salah selama bertahun-tahun seperti tidak pernah benar-benar mendapatkan penghormatan setinggi yang pantas ia terima dari publik Premier League. Padahal jika seluruh data, konsistensi, trofi, dan dampaknya diukur secara objektif, nama bintang Liverpool itu layak ditempatkan sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah kompetisi.

Perdebatan mengenai pemain terbaik Premier League biasanya selalu mengarah pada nama-nama besar seperti Thierry Henry, Cristiano Ronaldo, Ryan Giggs, Kevin De Bruyne, hingga Alan Shearer. Namun dalam banyak diskusi, nama Salah justru sering ditempatkan sekadar pelengkap meski pencapaiannya melampaui banyak legenda tersebut.

Fenomena ini terasa janggal karena sepanjang kariernya di Liverpool, Salah hampir tidak pernah mengalami musim yang benar-benar gagal. Sejak pertama datang ke Anfield pada 2017, pemain asal Mesir itu langsung menjelma menjadi mesin statistik yang konsisten memproduksi gol dan assist.

Dalam sejarah Premier League, tidak ada pemain lain yang mampu menyamai koleksi tiga penghargaan PFA Players’ Player of the Year milik Salah. Catatan tersebut menjadi bukti bahwa pengakuan dari sesama pemain profesional menempatkannya di level yang sangat istimewa.

Bukan hanya soal penghargaan individu, Salah juga tercatat sebagai salah satu pemilik Golden Boot terbanyak dalam sejarah Premier League dengan tiga gelar. Ia mencapainya di era persaingan luar biasa ketat saat striker-striker elite dunia memenuhi kompetisi.

Kehebatan Salah tidak berhenti pada kemampuan mencetak gol secara konsisten di setiap musim. Ia juga menjadi satu-satunya pemain selain Lionel Messi yang mampu meraih Golden Boot sekaligus Playmaker Award dalam satu musim sebanyak dua kali.

Prestasi itu terdengar sederhana ketika disebutkan dalam angka statistik. Namun jika dipahami lebih dalam, pencapaian tersebut berarti Salah mampu menjadi pencetak gol terbaik sekaligus kreator terbaik dalam kompetisi paling kompetitif di dunia secara bersamaan.

Tidak ada Cristiano Ronaldo, Luis Suarez, Neymar, atau bahkan Thierry Henry yang pernah melakukannya dua kali dalam liga domestik mereka. Fakta ini menjadi bukti bahwa Salah memiliki kombinasi komplet antara naluri pembunuh dan visi permainan kelas dunia.

Pada musim debutnya bersama Liverpool tahun 2017/18, Salah mencetak sejarah dengan torehan gol terbanyak non-penalti dalam satu musim 38 pertandingan. Rekor itu memperlihatkan bahwa produktivitasnya lahir dari kualitas permainan terbuka, bukan sekadar keuntungan dari titik putih.

Ia juga memegang rekor keterlibatan gol terbanyak dalam satu musim Premier League format 38 pertandingan dengan 47 kontribusi. Catatan ini menunjukkan betapa dominannya pengaruh Salah terhadap performa Liverpool sepanjang kompetisi.

Bagi banyak pemain hebat, satu musim luar biasa sering kali menjadi puncak karier yang sulit diulang. Salah justru membuat standar luar biasa itu terlihat biasa karena ia mempertahankan konsistensi elite selama delapan musim berturut-turut.

Dalam delapan musim awalnya bersama Liverpool di Premier League, Salah rata-rata mencatatkan 34 kontribusi gol per musim. Angka itu bahkan lebih baik dibandingkan musim terbaik sebagian besar legenda besar Premier League.

Sebagai pembanding, hanya Erling Haaland dan Harry Kane yang pernah melewati angka tersebut dalam periode delapan tahun yang sama. Menariknya, kedua pemain itu hanya melakukannya sekali, sedangkan Salah menjaga rata-rata itu selama hampir satu dekade.

Konsistensi seperti ini hampir mustahil ditemukan di era modern sepak bola. Ketika pemain lain mengalami penurunan performa karena usia, cedera, rotasi, atau perubahan taktik, Salah tetap menjadi jaminan produktivitas setiap musim.

Thierry Henry kerap dianggap pemain terhebat Premier League karena kombinasi elegansi dan efektivitasnya. Namun secara statistik assist, Salah justru memiliki konsistensi distribusi bola yang lebih stabil dibanding legenda Arsenal tersebut.

Henry memang pernah menyamai rekor assist semusim Premier League. Namun dalam enam dari delapan musimnya di liga, ia gagal mencapai dua digit assist, sedangkan Salah hanya dua kali gagal melakukannya sepanjang delapan musim.

Hal ini menunjukkan bahwa Salah bukan hanya finisher ulung, tetapi juga kreator serangan yang sangat efektif. Ia mampu menghadirkan ancaman ganda yang membuat pertahanan lawan hampir mustahil mengantisipasi semua kemampuannya sekaligus.

Cristiano Ronaldo juga sering disebut sebagai standar emas pemain Premier League modern. Namun ketika musim terbaik Ronaldo dibandingkan dengan musim debut Salah di Liverpool, hasilnya justru sangat mengejutkan.

Pada musim Ballon d’Or Ronaldo 2007/08, ia memang luar biasa bersama Manchester United. Namun Salah mencetak lebih banyak gol Premier League, lebih banyak assist liga, lebih banyak gol Liga Champions, dan lebih banyak assist Liga Champions.

Keduanya sama-sama mencapai final Liga Champions di musim tersebut. Akan tetapi kontribusi knockout Salah lebih besar, baik dari sisi gol maupun assist, menunjukkan pengaruhnya lebih langsung terhadap perjalanan tim menuju partai puncak.

Bahkan jika bicara estetika permainan yang sering dijadikan alasan pengagum Ronaldo, statistik dribel keduanya tidak menunjukkan jurang besar. Ronaldo hanya unggul tipis dalam jumlah dribel sukses meski citranya jauh lebih flamboyan.

Salah kerap dianggap terlalu mekanis oleh sebagian penonton. Padahal efektivitasnya justru berasal dari kecerdasan membaca ruang, keputusan cepat, dan kemampuan teknis presisi yang sangat sulit ditiru pemain lain.

Banyak kritik terhadap Salah juga berubah arah ketika statistik gagal membantah dominasinya. Perdebatan biasanya bergeser ke jumlah trofi tim, seolah itu satu-satunya ukuran untuk menentukan status pemain terbaik.

Jika logika itu dipakai mentah-mentah, maka Ryan Giggs seharusnya otomatis menjadi pemain terbaik sepanjang masa karena koleksi gelarnya bersama Manchester United. Namun faktanya, perdebatan publik tidak pernah sesederhana itu.

Salah justru punya koleksi trofi luar biasa bersama Liverpool di era persaingan brutal melawan Manchester City racikan Pep Guardiola. Ia memenangkan Premier League, Liga Champions, Piala FA, Piala Liga, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Lebih penting lagi, Salah mengakhiri penantian panjang Liverpool meraih gelar liga Inggris yang telah berlangsung 30 tahun. Ia menjadi wajah utama kebangkitan salah satu klub terbesar dunia menuju puncak kejayaan baru.

Kontribusi historis semacam ini memiliki nilai lebih dari sekadar angka statistik. Salah bukan hanya pemain hebat dalam tim besar, tetapi sosok sentral yang mengubah arah sejarah klub.

Di masa depan, publik mungkin baru akan benar-benar memahami besarnya warisan Salah setelah ia pergi. Ketika rekor-rekornya tetap bertahan dan sulit disentuh generasi berikutnya, barulah kesadaran kolektif itu muncul.

Premier League telah menyaksikan banyak legenda besar datang dan pergi. Namun sangat sedikit yang mampu menggabungkan konsistensi, statistik absurd, trofi besar, dan pengaruh historis seperti yang dilakukan Mohamed Salah.

Suatu hari nanti, perdebatan ini mungkin tak lagi diperlukan karena fakta akan berbicara sendiri. Saat itu tiba, semua orang akan sadar bahwa Premier League pernah memiliki pemain terbaik sepanjang sejarah, dan namanya adalah Mohamed Salah.