Tak hanya itu, Efek kabut asap pada Tour de Singkarak (TdS) 2015 juga dapat mengurangi Etape yang dilalui peserta. Rest Director TdS 2015, Sondy Sampurno mengatakan, terkait kabut asap sendiri, pihaknya telah memperhitungkan kemungkinan terburuk.
"Apabila terjadi gangguan pada satu Etape maka akan dicancel (hilangkan) atau pengurangan etape," katanya di Padang.
Dinas Kesehatan Sumbar sendiri beranggapan bahwa masalah kabut asap berpengaruh tidak hanya kepada peserta. Akan tetapi para pebalap pasti akan menghirup lebih banyak dan dapat mengakibatkan mereka lebih terengah-engah.
“Hal itu tergantung yang diukur oleh BMKG, kalau yang diukur BMKG tidak sehat berarti tidak baik bagi semua orang, cuma pebalap akan lebih terengah-engah karena mereka menghirup lebih banyak,” kata Kabid Penanggulangan dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sumbar, Irene kepada INDOSPORT.
Terkait apakah pebalap nantinya akan menggunakan masker, pihaknya sendiri mengaku belum bisa menjawabnya. "Saat ini kita belum bisa jawab, kita lihat bagaimana kondisinya besok," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Informasi dan Observasi BMKG Ketaping Padang Budi Samiaji menyebutkan untuk kondisi cuaca kabut asap, kemarin cukup pekat.
”Kondisi cuaca dinamis sedang labil ada potensi hujan di Pariaman hari ini(kemarin)” katanya.
Selanjutnya untuk kondisi cuaca satu minggu kedepan di Sumbar potensi hujan cukup baik. Terutama pada wilayah utara dan tengah, sedangkan untuk bagian selatan masih kecil.
Ia menyebutkan jarak pandang saat ini berfluaktif, terakhir menurut pantauan pihaknya di Bandara Internasional Minangkabau(BIM) jarak pandang sekitar 2000 meter.
"Untuk daerah bagian selatan Sumbar berkisar 300 sampai 500 meter, seperti di Sijunjung jarak pandang 300 meter," katanya.
Seperti diketahui, TdS 2015 akan dimulai pada esok hari, Sabtu (3/10/2015) dengan Etape pertama dimulai dari Kabupaten Pesisir Selatan.