Nico, panggilan akrab Nicolas Thomas, meraih berbagai prestasi nasional dan internasional. Sebut saja medali perak SEA Games Bangkok, Thailand, Medali emas Piala Presiden IX/1986 hingga sabuk juara dunia kelas terbang mini IBF pada 17 Juni 1989.
INDOSPORT berkesempatan bertatap muka secara langsung dengan Nico yang dikarunia tiga orang putra ini. Berikut wawancara INDOSPORT dengan Nico Thomas:
INDOSPORT: Nico, apa kabar? Kita mau tahu cerita awal sampai Nico Thomas terjun ke dunia tinju?
Nico Thomas: Saya baik-baik. Terus terang saya lahir dari keluarga petinju. Keluarga Thomas sudah tak asing lagi dengan tinju. Semua abang saya petinju nasional. Abang Charles Thomas menjadi pelatih saya. Dia juara lima kelas di amatir. Saya mulai tinju dari tahun 1981 di kelas amatir. Akhirnya pada 1986 saya memutuskan ke profesional.
INDOSPORT: Kira-kira hal apa yang membuat Nico berambisi menjadi seorang petinju profesional?
Nico Thomas: Pernah saat itu 3 Mei 1985 saya melihat Ellyas Pical di televisi. Dia saat itu menjadi juara dunia. Lalu timbul di pikiran dia saja bisa, kenapa saya tak bisa. Saya bandingkan padahal kita sama seperti dia (Ellyas Pical). Kita sama-sama petinju kidal, sama-sama pernah juara Piala Presiden. Timbul motivasi bahwa saya juga harus bisa seperti dia.
INDOSPORT: Saat memutuskan pindah ke tinju professional, kita tahu Nico berhasil meraih gelar kelas terbang mini versi IBF. Bagimana ceritanya?
Nico Thomas: Wah, ceritanya itu panjang. Jangan salah, saya baru bisa meraih sabuk itu saat pertandingan kedua melawan juara bertahan petinju Thailand Samuth Sithnaurepol. Pada pertandingan pertama 23 Maret 1989 saat itu saya sebagai penantang di Senayan. Kita saat itu merasa dibodohi karena kita main di rumah sendiri. Semua masyarakat Indonesia tahu saya memenangkan pertandingan. Tapi sayang hasilnya draw. Perasaan saya saat itu hancur karena kesal main di rumah sendiri kok kita bisa dibodohi.
INDOSPORT: Bagimana ceritanya Nico berhasil merebut sabuk juara tersebut?
Nico Thomas: Saat saya sedang sedih, Menpora (saat itu) Akbar Tanjung menghampiri dan menghibur saya. Beliau meminta untuk ditanding ulang. Benar saja, tiga bulan kemudian, tepatnya 17 Juni 1989, saya tanding ulang. Di situ saya berhasil mengalahkan Samuth Sithnaurepol.
INDOSPORT: Sayang waktu itu tidak beberapa lama, sabuk tersebut lepas kembali dan direbut oleh petinju Filipina Eric Chavez di Jakarta, 21 September 1989. Apa penyebab begitu singkatnya Nico mempertahankan gelar tersebut?
Nico Thomas: Saya rasa faktor lucky blow. Itu dapat terjadi pada siapa saja, tidak hanya saya. Saya lupa saat itu dia sebenarnya petinju kidal sama seperti saya. Saat itu uppercut dia tepat masuk ke ulu hati saya. Itu fatal dan akhirnya saya KO pada ronde kelima. Saya menyesal, tapi, ya, seperti saya bilang tadi factor lucky blow.
INDOSPORT: Dari semua pertandingan yang dilewati Nico, adakah pertandingan yang sangat berkesan?
Nico Thomas: Saat itu saya bermain di suatu tempat terpencil di Jepang. Saat itu semua penonton tua-tua berdiri semua menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu benar-benar membuat saya merinding.
INDOSPORT: Menurut Nico, dari menjadi seorang petinju apakah tinju dapat dijadikan sebagi sumber penghidupan?
Nico Thomas: Saya bilang sangat bisa, siapa bilang tidak bisa. Kita ambil contoh, Chris Jhon sukses dari tinju. Ellyas Pical, maaf, pendidikannya hanya apa sih, tapi kita lihat istrinya seorang dokter. Saya katakan tinju sangat bisa dijadikan penghidupan. Namun tetap jangan salah jalan. Kalau salah jalan, contohnya Mike Tyson, sangat sukses tapi apa sekarang karena salah jalan dia habis.
INDOSPORT: Kini sekarang Nico telah menggantung sarung tinju. Hal apa yang membuat Nico memutuskan pensiun?
Nico Thomas: Saya terakhir kali bertanding pada 15 April 2006. Saya memulai tinju profesional sejak 1986. Selama 20 tahun, saya pikir saya terlama yang berkecimpung di tinju profesional. Saya menerima pukulan dan babak belur. Saya masih bersyukur masih ada di dunia ini sampai saat ini.