Bagi Muhammad Ali, laga ini sekaligus mengobati luka usai kalah angka dari musuh bebuyutannya Joe Frazier di New York 8 Maret 1971. Akibat kekalahan ini, Ali harus menyerahkan gelar juara kelas berat dunia miliknya.
Seperti ditulis dalam buku Sports Matters: Race, Recreation, and Culture, laga ini tidak hanya menjadi sorotan nasional, juga menjadi sorotan dunia. Apalagi Rudi Lubbers berstatus sebagai warga negara Belanda, bekas negara penjajah Indonesia.
Kondisi lebih ramai karena dukungan mayoritas masyarakat muslim Tanah Air yang mengelu-elukan Ali yang kala itu sudah memeluk agama Islam. Sambutan meriah masyarakat Indonesia kepada pemilik nama Cassius Marcellus Clay, Jr, sebelum masuk Islam.
Bahkan Ali sempat diarak-arak di Jakarta menggunakan becak sebelum masuk ke Stadion Gelora Bung Karno, tempat pertandingan berlangsung.

Tiket dibandrol Rp1.000 sampai Rp 27.500 habis terjual untuk 35 ribu penonton. Masyarakat dunia, terutama negara-negara dunia ketiga ikut menyoroti laga lewat televisi. Kala itu, PT. Bank Nasional Indonesia juga ikut sponsori laga penting meski non gelar ini.

Sang lawan, Rudi Lubbers yang menjadi representasi dari pemerintah kolonial, juga menganggap laga ini adalah laga penting, yang tentunya berimbas pada gengsi negaranya Belanda dari atas ring.
Dalam buku Heavyweight Boxing in the 1970s: The Great Fighters and Rivalries karya Joe Ryan diceritakan, Lubbers telah berlatih 9 bulan sebelumnya sebelum laga berlangsung.
Sedangkan Ali baru berlatih sebulan di Los Angeles, dan tenaganya banyak terkuras karena perjalanan panjang ke Los Angeles-Jakarta.
Namun demikian, ia tak menganggap remeh laga melawan Lubbers, meski Ia sempat sesumbar bakal menaklukkan lawannya dalam 5 ronde saja.
Ali tak menganggap remeh sang lawan. Ali memprediksi sang lawan memang petinju yang memiliki pertahanan tangguh, bahkan menurutnya Lubbers lebih hebat dari Fraizier atau bahkan musuh Ali lainnya, George Foreman.
Rubbers sendiri terkenal petinju yang cukup alot. “Dia adalah seorang petinju yang mampu bertahan lama,” tulis buku tersebut.
Dan benar saja, ternyata Lubbers mampu berdiri dan bertahan hingga ronde ke-12, meski hidung dan pelipis mata berkucur darah.
Ali mendominasi tiap babak, dan sepertinya ia sadar bahwa ia menang poin, sehingga tak ngotot menjatuhkan lawannya.
“Saya mengakui Lubbers jauh lebih sulit dari yang saya pikir sebelumnya, "kata Ali usai laga.
Yang menarik dalam laga tersebut adalah Ali jarang sekali menggunakan tangan kirinya saat bertarung. Ternyata ia sengaja melakukan hal tersebut.
Sambil mengepalkan tangan kanannya ia berujar. “Saya menyimpan tangan kanan saya untuk Joe Fraizer."
Ali pun membuktikan ucapannya setahun setelahnya dengan berhasil merebut kembali gelar juara kelas berat WBC dan WBA setelah menumbangkan George Foreman di Kinsasha, Zaire pada 30 Oktober 1974 dalam laga berjuluk ‘Rumble in the Jungle’.
Dan pada 1 Oktober 1975 di Manila, dalam laga berjuluk ‘Pertandingan Abad Ini’, Ali juga menang TKO atas Frazier dalam laga 14 ronde yang menegangkan.
Setelah laga di Jakarta melawan Lubbers, Muhammad Ali beberapa kali mengunjungi Indonesia. Ali yang saat ini sudah berusia 73 tahun berjuang melawan penyakit saraf parkinson.
Sedangkan bekas lawannya, Rudi Lubbers, justru bernasib nahas. Pada tahun 1986, ia ditangkap di Portugal atas perkara perdagangan narkoba dan dipenjara selama empat tahun.
Berikut video pertarungan Muhammad Ali vs Rudi Lubbers di Jakarta 1973: