MotoGP

Catat 7 Kemenangan dan 9 Pole Position, Yamaha Gagal Jadi Juara Dunia!

Sabtu, 26 Desember 2020 14:30 WIB
Editor: Pipit Puspita Rini
© LLUIS GENE/AFP via Getty Images
Fabio Quartararo angkat tropi kemenangannya di atas podium di MotoGP Moto Grand Prix de Catalunya, Minggu (27/09/2020). Copyright: © LLUIS GENE/AFP via Getty Images
Fabio Quartararo angkat tropi kemenangannya di atas podium di MotoGP Moto Grand Prix de Catalunya, Minggu (27/09/2020).

INDOSPORT.COM - Membahas MotoGP 2020 seperti tidak ada habisnya. Banyak hal "tidak normal" tarjadi pada musim yang hanya menggelar 14 seri ini. Paling kelihatan tentu saja munculnya Joan MIr sebagai juara dunia.

Gebrakan Joan Mir dan Suzuki benar-benar jadi kejutan. Apalagi jika bicara statistik, kemenangan seharusnya jadi milik Yamaha. Catatan pembalap mereka mendominasi musim ini.

Dari 14 balapan, mereka menang tujuh kali atau setengahnya. Tiga kemenangan masing-masing dipersambahkan oleh Franco Morbidelli dan Fabio Quartararo (Petronas Yamaha SRT), dan satu lagi oleh Maverick Vinales (Monster Energy Yamaha MotoGP).

JIka itu kurang meyakinkan, tambahkan fakta bahwa mereka adalah penguasa pole position, yaitu sembilan kali. Namun, pada akhirnya mereka gagal meraih satu pun gelar juara dunia tahun ini.

Di kategori tim, Team Suzuki Ecstar yang "hanya" dua kali memenangi balapan, keluar sebagai yang terbaik. Yamaha diwakili tim satelit mereka, Patronas Yamaha SRT, berada di urutan kedua.

Lalu, untuk kategori konstruktor, Ducati yang keluar sebagai pemenang. Seperti Suzuki, Ducati juga hanya dua kali meraih kemenangan, yang masing-masing dipersembahkan oleh Andrea Dovizioso dan Danilo Petrucci.

Media dan jurnalis luar negeri yang selama ini fokus meliput MotoGP menyadari betul betapa "anehnya" fakta ini. Mereka yang sering mengikuti konferensi pers MotoGP pasti bisa menangkap ada yang salah dengan Yamaha.

Salah satu jurnalis pernah menuliskan betapa Franco Morbidelli sangat berhati-hati saat menjawab setiap pertanyaan wartawan. Morbidelli bisa dikatakan telah menyelamatkan muka Yamaha, karena di akhir musim dia keluar sebagai runner-up.

© Mirco Lazzari gp/Getty Images
Franco Morbidelli (kanan) dalam sesi wawancara Copyright: Mirco Lazzari gp/Getty ImagesFranco Morbidelli (kanan) dalam sesi wawancara

Tiga pembalap Yamaha lainnya sudah menyuarakan keluhan mereka seputar performa M1 musim ini. Mengapa motor yang begitu dominan pada awal musim tiba-tiba seperti mengalami kemunduran dan sulit untuk bersaing?

Sepertinya, ada ketidaksinkronan antara engineer yang di Jepang dengan mereka yang mengoperasikan motor selama balapan di Eropa. Bisa jadi ada perbedaan pandangan seputar bagaiamana membuat M1 bisa lebih cepat.

Lantas bagaimana dengan masukan dari pembalap? Memang ada semacam sikap saling menghormati antara pembalap dan tim, yang mungkin jadi pembatas bagi rider untuk memberikan masukan.

Fabio Quartararo yang tahun ini baru menjalani musim keduanya di MotoGP, memberikan pendapat soal ini.

"Saya akan memberikan pendapat saya ke Yamaha dan saya berharap mereka akan mendengarkan. Saya akan melakukan segalanya untuk membuat motor Yamaha kembali menjadi yang terbaik," kata Quartararo.

Pembalap Prancis tersebut sudah menyatakan dedikasinya untuk Yamaha. Dia berharap segala masukannya akan didengarkan. Karena pada faktanya, pembalaplah yang jadi penentu hasil akhir sebuah perjuangan di lintasan.