Mengenang Momen Tim Indonesia Terakhir Kali Juara Piala Sudirman

Selasa, 21 Mei 2019 08:13 WIB
Penulis: Luqman Nurhadi Arunanta | Editor: Arum Kusuma Dewi
© AFP-IOP/AFP/Getty Images
Susy Susanti menjadi titik kebangkitan Indonesia di final Piala Sudirman 1989. Copyright: © AFP-IOP/AFP/Getty Images
Susy Susanti menjadi titik kebangkitan Indonesia di final Piala Sudirman 1989.
Kebangkitan Susy Susanti dan Indonesia di Final

Pertarungan sengit terjadi di laga pertama. Rudy Gunawan/Eddy Hartono kalah dari musuh bebuyutannya yang juga legenda ganda putra Korea Selatan, Park Joo Bong/Kim Moon Soo, dengan skor 9-15, 15-8, dan 13-15.

Kondisi kian mengkhawatirkan setelah ganda putri Verawaty Fajrin/Yanti Kusmiati menyerah dari Hwang Hye Young/Chung So Young 12-15, 6-15.

Harapan terakhir Indonesia berada di pundak gadis berusia 18 tahun bernama Susy Susanti. Nahas, Susy justru menelan kekalahan di set pertama dari Lee Young Suk 10-12.

Di set kedua, Susy sudah nyaris kalah 2-10. Satu angka lagi, Korea Selatan akan memastikan gelar juara dengan kemenangan mutlak 3-0.

Semua penonton tertuntuk lesu, Indonesia sudah kalah, pikir mereka. Beberapa di antara mereka mungkin telah beranjak dari kursi penonton dan melangkahkan kaki keluar gedung dengan menyeka kesedihan.

Susy masih di atas lapangan, berdiri dengan kakinya yang kuat nan kecil. Ia belum menyerah, semangatnya masih enggan padam menolak kalah.

Pelan-pelan Susy memperkecil ketertinggalan, 4-10, 6-10. Angkanya terus bertambah dan bertambah. Penonton keheranan dan mulai kembali bersorak menggemakan nama Susy.

Lee Young Suk gugup, Susy telah mencapai angka 10-10! Dengan serangan yang mematikan, Susy menyudahi pertarungan di game kedua dengan skor 12-10. Menakjubkan!

Di set ketiga, daya juang Lee Young Suk telah habis. Susy membantai Lee Young Suk yang telah jatuh mentalnya dan hancur tanpa perlawanan dengan skor 11-0.

Korea Selatan ketar-ketir, Indonesia semakin di atas angin. Edy Kurniawan berhasil membawa Indonesia menyamakan  angka 2-2 setelah menang 15-4, 15-3 dari Han Kok Sung.

Di laga penentu, Eddy Hartono/Verawaty Fajrin menghabisi perlawanan Park Joo Bong/Chung Myung Hee 18-13, 15-3. Istora Senayan akhirnya bergelora dan mengharu biru.

Namun sayangnya, kejayaan yang membuat sekujur tubuh merinding itu belum pernah lagi dirasakan oleh Indonesia. China lebih sering mendominasi turnamen dwi tahunan itu dengan 10 gelar, sementara Korea Selatan 4 gelar juara.

Tahun 2019, Indonesia masih punya harapan dengan putra-putri terbaik saat ini. Sudah saatnya Indonesia menyudahi puasa gelar 30 tahun silam di bulan Ramadan yang penuh berkah.

Ikuti Terus Berita Piala Sudirman dan Olahraga Lainnya di INDOSPORT.COM