Media China Soroti Wakilnya yang Tak Lagi Mendominasi Tunggal Putri Seperti Dulu

Selasa, 27 April 2021 04:40 WIB
Penulis: Shella Aisiyah Diva | Editor: Yosef Bayu Anangga
© Zimbio
Media China soroti wakilnya yang tak lagi mendominasi tunggal putri menurut legenda tunggal putra Malaysia, Rashid Sidek. Copyright: © Zimbio
Media China soroti wakilnya yang tak lagi mendominasi tunggal putri menurut legenda tunggal putra Malaysia, Rashid Sidek.

INDOSPORT.COM - Media China soroti wakilnya yang tak lagi mendominasi tunggal putri menurut legenda tunggal putra Malaysia, Rashid Sidek.

Dinasti China di sektor tunggal putri memang tidak bisa terbantahkan. Sejak Olimpiade Athena 2004 hingga Olimpiade London 2012, seluruh peraih medali emas berasal dari Negeri Tirai Bambu.

Setelah Olimpiade London 2012, mulai terjadi pergeseran dominasi, ketika Tai Tzu Ying muncul sebagai salah satu jagoan baru di tunggal putri, sebelum puncaknya Carolina Marin dari Spanyol sukses memenangkan emas di Olimpiade Rio 2016.

Pergeseran dominasi di tunggal putri pun diakui oleh eks pelatih tunggal putra Asosiasi Bulutangkis Malaysia (BAM), Rashid Sidek, yang mengaku kalau sektor tunggal putri kini tidak hanya didominasi China tetapi juga negara lain.

"Para tunggal putri mungkin, telah mengambil giliran terbesar. China dulu mendominasi tetapi Tzu-ying sekarang memimpin sekelompok pemain wanita yang ditentukan dari berbagai negara," kata Rashid dikutip dari media The Star yang disoroti media China, Aiyuke.

Eks pelatih BAM juga membahas perihal Carolina Marin yang kini menjadi salah satu kekuatan di tunggal putri yang berasal dari Eropa, dan telah menjadi Juara Dunia sebanyak tiga kali.

“Saat saya mewakili Malaysia di Olimpiade 1992 di Barcelona, ​​orang di sana bahkan tidak tahu bulutangkis itu ada. Sekarang, mereka memiliki tiga kali juara dunia di Marin," ujarnya menambahkan.

Rashid Sidek menambahkan bahwa apa yang ditunjukkan oleh Carolina Marin dengan menjadi satu-satunya wakil Eropa yang harus diperhitungkan di tunggal putri adalah tentang pola pikir.

“Ini semua tentang pola pikir sebenarnya. Marin menunjukkan bahwa bangsanya mungkin tidak menjadi besar dalam olahraga ini, tetapi dia melakukannya sendiri untuk membuat perbedaan. Dia adalah seorang pejuang dan lihat di mana dia sekarang," tuturnya.