Odegaard Si Bocah Ajaib, Tak Sekadar Talenta
Muda dan bertalenta mungkintak cukup menggambarkan Martin Odegaard. Pasalnya, talenta tak akan cukup tanpa disertai kemampuan lain. bagi Odegaard, hal itu adalah kegigihanya dalam berlatih.
"Saya sudah menjadi pelatih regional untuk pemain muda terbaik. Saya memerhatikan sebarpa banyak mereka latihan bersama klub dan latihan sendiri. Martin berlatih lebih dari dua kali lipat dari para pemain itu. Dia berlatih lebih dari 20 jam tiap pekannya" urai sang ayah.
Hans Erik menambahkan, tak hanya waktu latihan, sang anak pun memiliki cara tersendiri dalam latihan yang selalu melibatkan bola. Martin juga dikatakan bisa menjaga fokus selama berlatih. Tak heran jika dalam usia belia dia bisa mengikuti irama pemain profesional.
Hans Erik, saat ini berusia 40 tahun, mengaku sempat kesulitan dengan kemajuan pesat anaknya. Kelebihan anaknya justru sempat membuat hubungan ayah-anak terganggu.
"Saya jasi selalu takut menjadikannya favorit. Kami selalu mengganti kapten, tapi dia tak pernah dipilih. Pengharapan saya sangat tinggi, jadi saya sering meneriakinya. Suatu hari orang tua lain menghampiri saya dan mengatakan saya terlalu keras," kenang Hans Erik.
Namun, akhirnya Hans Erik dan Martin menemukan solusi. "Kami sepakat untuk membahas pertandingan ketika tinggal kami berdua, di mobil usai pertandingan. Kami masih berdiskusi, terlau sering, soal sepakbola."
Martin Odegaard mungkin sudah tenar. Tapi, dia tetap sebagai anak, pelajar yang masih harus mentaati aturan keluarga dan menempuh ilmu di sekolah.
"Dia masih, tentu saja, pergi ke sekolah. Saya pikir tak babus untuk anak-anak hanya bermain sepakbola dan PalyStation. Anak-anak perlu bekerja menggunakan otak mereka dan tumbuh menjadi seseorang," han Erik berprinsip.