Tentunya Manchester City tidak ingin mengulang bagaimana mereka harus merekrut pemain bengal macam Carlos Tevez dan Mario Balotelli beberapa musim ke belakang.
Kedua pemain yang direkrut City dengan harga yang fantastis namun berujung pahit karena sikap mereka tentu harus menjadi pelajaran Manchester City saat ini yang bernafsu datangkan Raheem Sterling.
Winger muda asal Inggris tersebut kabarnya mendapat mahar sebesar 49 juta poundsterling atau setara dengan Rp 1 triliun. Angka yang sangat tinggi jika dibandingkan kontribusi Sterling selama membela Liverpool.
Hengkangnya Sterling ke Manchester City dimulai dengan tingkah Sterling yang meminta kenaikan gaji ke manajemen lalu ditolak. Ia pun ditinggalkan saat Liverpool lakukan lawatan pra musim ke Asia. Hal sama pernah dilakukan Manchester City ke mantan penyerangnya Carlos Tevez saat 2011 lalu.
City yang kala itu dilatih oleh Roberto Mancini terpaksa meninggalkan penyerang asal Argentina tersebut karena ia konflik dengan Roberto Mancini.
Saat ini ditengah era industri sepakbola, memang mau tak mau harus menerima kenyataan bahwa pesepakbola sudah berorientasi pada uang. Kenyataan yang tak bisa ditampik. Namun seperti kritikan Gerrard ke Sterling,
"Sangat tidak adil memperlakukan fans yang ingin melihatnya bermain bersama Liverpool, itu tidak tidak dewasa," kata Gerrard beberapa hari lalu.
Loyalitas pemain untuk pindah ke satu klub menjadi satu pertanyaan jika ia hanya mengincar rekor transfer yang sangat tinggi, bukan semata karena kecintaannya pada klub baru untuk berikan gelar dan hasil terbaik.