Kisah Transformasi Mitra Kukar di Persepakbolaan Indonesia
Di tahun 2005 lembaran baru kembali dimulai. Kabupaten Kutai Kartanegara akhirnya memberanikan diri untuk membeli Mitra Kukar dari H. Sulaiman HB dengan harga Rp. 1,5 milyar. Perombakan manajemn pun langsung dilakukan. H. Sugiyanto diangkat sebagai Ketua Umum menggantikan H. Suryanto Anwar.
Sejak perubahan kepengurusan tersebut, nuansa perkembangan Mitra Kukar baru terlihat di musim kompetisi 2008/09. Saat itu mereka mampu menembus delapan besar Divisi Utama Liga Indonesia (perubahan nama dari Divisi I).
Namun, kesempatan untuk melaju ke tingkat yang lebih tinggi harus kandas saat tersisi di Grup 2, yang saat itu tergabung dengan Persisam Putra Samarinda, Persebaya Surabaya, dan Persidago Gorontalo.
Di musim berikutnya, momentum keberhasilan melaju ke babak delapan besar ternyata tidak menjadikan mereka penuh semangat di musim 2009/10. Saat itu mereka hanya mampu finis di peringkat delapan dan gagal menyamai prestasi musim sebelumnya.
Kemerosotan musim 2009/10 ternyata dapat mereka obati di musim 2010/11. Mereka berhasil promosi ke Indonesia Super League (ISL) setelah keluar sebagai tim peringkat tiga di babak knock out Divisi Utama.