Barcelona bermain indah kala menjungkalkan Arsenal di leg kedua babak 16 besar Liga Champions, pertengahan Maret 2016. Saat itu, Blaugrana mengempaskan The Gunners 3-1 berkat gol trisula mereka, Luis Suarez, Neymar, dan Lionel Messi. Mereka pun menang agregat 5-1 dan melaju ke perempatfinal.
Menang atas Arsenal merupakan kemenangan 38 Barca berturut-turut. Di La Liga Spanyol, mereka tak tergoyahkan dari dua pesaingnya, Atletico Madrid dan Real Madrid. Mereka juga melaju ke final Copa del Rey menghadapi Sevilla.
Saat itu, sepertinya musim ini benar-benar milik Messi dan kawan-kawan. Mimpi treble winners sudah menanti di depan mata. Namun, segalanya berubah memasuki bulan April.
Barcelona memulai tren negatif saat terdepak dari perempatfinal Liga Champions dari Atletico Madrid. Lantas, mereka kalah dalam tiga kali pertandingan berturut-turut. Rekor ini pertama kalinya sejak 13 tahun.
Meski masih memuncaki klasemen La Liga Spanyol, Barca terancam gagal raih trofi. Barcelona saat ini memiliki 76 poin. Poin mereka sekarang sama dengan Atletico Madrid. Sementara itu, Real Madrid yang hanya berselisih satu poin mengincar mengkudeta Barca di puncak klasemen.
Barca benar-benar berubah. Dari yang semula tim terbaik dengan permainan tiki-taka yang indah, kini terjun dramatis dan terancam tanpa gelar. Ada apa dengan Barca?
INDOSPORT merangkum 4 faktor pemicu Barcelona mengalami tren negatif menjelang akhir musim.