Maulwi Saelan: Sang Penjaga Sejati
Semasa hidup, Maulwi Saelan pernah menjadi wakil komandan Tjakrabirawa, sebuah pasukan khusus yang bertugas sebagai penjaga Presiden Soekarno.
Sayang, usai peristiwa G30S, Maulwi harus mengakhiri tugasnya, karena seluruh orang dekat, atau ring satu, Soekarno mulai dipreteli.
Sebanyak 15 menteri dalam Kabinet Dwikora ditangkap. Pengawalan terhadap Presiden Sukarno perlahan dikurangi dan kemudian ditiadakan sama sekali bersamaan pembubaran Tjakrabirawa.
“Fasilitas untuk presiden mulai dikurangi. Pengawalan hanya dilakukan oleh CPM seadanya. Presiden tidak boleh lagi menggunakan helikopter, hanya boleh menggunakan mobil,” ucap Maulwi dikutip dari Historia.
Dua tahun usai peristiwa G30S, Maulwi diinterogasi di markas Kopkamtib. Dia ditanyai seputar keterlibatan Presiden Sukarno dalam peristiwa G30S 1965.
Pemeriksaan terhadap dirinya ternyata berujung pada pemenjaraan. Setelah diinterogasi Kopkamtib, Maulwi tak pernah diizinkan pulang sampai lima tahun lebih kemudian.
Maulwi ditahan di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta Pusat, selama empat tahun delapan bulan.
Lepas dari sana, ia kemudian dipindahkan ke Rumah Tahanan Nirbaya, Jakarta Timur, selama satu tahun. Semasa dalam tahanan, Maulwi ditempatkan di sel isolasi.
“Kalau hujan kehujanan, kalau panas kepanasan. Selama seminggu saya dibuat menderita. Kelaparan dan kehausan. Untung ada penjaga bekas anak buah yang berbaik hati memberikan saya pisang goreng,” kenang Maulwi.