Kemampuan skuat Timnas Belgia mampu melenggang hingga babak perempatfinal Piala Dunia 2014 lalu merupakan prestasi terbaik kedua yang diraih. Sebelumnya di era Piala Dunia 1986, Belgia memang mampu menembus hingga babak semifinal.
Setelah itu, Timnas Belgia jadi salah satu negara di Eropa yang jadi 'pemanis' di perhelatan Piala Dunia. Hal sama terjadi di perhelatan Euro. Pada Euro 2016 di Prancis beberapa waktu lalu, Timnas Belgia kembali sukses menembus babak perempatfinal, prestasi terbaik kedua setelah Euro 1980.
Faktanya memang sejak era 80-an, Timnas Belgia tak mampu kreasikan pesepakbola handal. Bisa dibilang pesepakbola asal Belgia di era 80 dan 90-an ialah pemain kelas kedua di Eropa. Nama-nama seperti Luc Nilis, Emile dan Mbo Mpenza hanya segelintir diketahui pecinta sepakbola.
Lantas bagaimana federasi sepakbola Belgia, Royal Belgian Football Association (KBVB) bisa hasilkan generasi seperti Eden Hazard Cs?
The Guardian di 2014 lalu sempat menurunkan artikel terkait cetak biru generasi emas sepakbola Belgia. Dalam artikel yang ditulis oleh Stuart James tersebut terselip nama Michel Sablon. Nama yang terdengar asing untuk pecinta sepakbola.
Sosok Sablon bisa dibilang 'Tuhan' yang menciptakan generasi emas sepakbola Belgia saat ini. Berkat konsepnya, muncul Courtois serta De Bruyne.
Jika ditarik ke dalam negeri, ke sepakbola negeri ini, sosok seperti Sablon-lah yang dibutuhkan. Sablon ialah 'Socrates' dalam sepakbola. Pemikirannya tidak melulu pada pertandingan di lapangan hijau, tapi bagaimana filosofis dalam sepakbola tidak boleh dilupakan serta hal penting lainnya yang selama ini lalai diproses pembangunan sepakbola nasional.
Siapa Michel Sablon? Hal apa yang membuat sosok seperti Sablon dibutuhkan oleh sepakbola nasional? Berikut analisisnya untuk pembaca setia INDOSPORT: