Sepakbola Indonesia Ingin Cetak Generasi Emas, Wajib ada Sosok Seperti Michel Sablon

Selasa, 25 Oktober 2016 19:17 WIB
Editor: Galih Prasetyo
© Muhammad Qomarudin/INDOSPORT
Indra Sjafri, eks pelatih Timnas U-19. Copyright: © Muhammad Qomarudin/INDOSPORT
Indra Sjafri, eks pelatih Timnas U-19.
Gandeng kaum akademisi

Bagi Sablon pembangunan pemain muda ialah ruh untuk bisa menciptakan generasi emas di Belgia. Sablon saat menjabat direktur teknis Timnas Belgia langsung meminta dana untuk membangun pusat pengembangan sepakbola pemuda Belgia yang terletak di Tubize, di pinggiran Brussels, Belgia. 

Selain itu, Sablon pun menggandeng kerjasama dengan sejumlah universitas di Belgia, salah satunya Universitas Louvain. Universitas ini diminta untuk melakukan riset terkait pengembangan pemain muda Belgia. 

Para akademisi dari Universitas Louvain tiap harinya melakukan pertemuan rutin dengan sejumlah direksi klub untuk bertukar ide dan mendorong mereka memberi kontribusi untuk pengembangan pemain muda. 

"Kami memang memulainya dari analisis ilmiah. Jika kita mengatakan bahwa anak-anak laki-laki dan perempuan yang berlatih menendang bola bolak-balik selama setengah jam itu baik, tidak ada yang membantahnya. Karena kami mendapat itu dari riset ilmiah," kata Sablon. 

Menariknya, Sablon menugaskan seorang pemain dan pelatih dari klub divisi dua Belgia, Werner Helsen untuk melakukan riset tersebut. 

"Tapi ia adalah seorang profesor dari Universitas dan juga pemain," kata Sablon. 

Apa yang dilakukan oleh Sablon kemudian berbuah hasil saat ini. Meski Sablon mengakui bahwa sebelumnya ia sempat mendapat cibiran dari para petinggi sepakbola Belgia. 

"Menurut mereka, mengapa saya lebih memperhatikan sebuah sistem (formasi) dibanding berpikir apakah kita sudah memenuhi syarat untuk bisa tembus ke Piala Dunia dan Euro. Justru dari situ, syarat mampu kami penuhi," kata Sablon. 

Merujuk apa yang dilakukan oleh Sablon sebenarnya sudah dilakukan oleh sepakbola negeri ini, meski terlambat. Sosok eks pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri ialah pelakunya. Saat masih menjabat sebagai pelatih Timnas U-19, Indra acapkali berdiskusi dengan sport science

Indra sendiri mengakui kalau sport science memang diterapkan di timnya saat menjuarai Piala AFF U-19 lalu. "Tapi data-data dari sport science tersebut tetap kita padukan dengan yang aspek-aspek lain. Teknik, HPU, dan lainnya," tutur Indra.

Sayang cetak biru dari Indra Sjafri untuk membangun negeri ini hanya bertahan dua tahun. Federasi sepakbola kita ternyata tidak cukup memiliki kesabaran seperti yang dimiliki oleh federasi sepakbola Belgia. 

304