Sepakbola Indonesia Ingin Cetak Generasi Emas, Wajib ada Sosok Seperti Michel Sablon
Saat mendapat tugas untuk membangun sepakbola Belgia, hal pertama yang dilakukan oleh Sablon ialah mengubah pola pikir di sepakbola Belgia. Kala itu, Sablon menugaskan Bob Browaeys, pelatih tim muda Belgia saat itu untuk membiasakan para pemain muda Belgia menerapkan formasi 4-3-3.
"Anda harus tahu bahwa pada akhir 90-an, kami menerapkan kultus individu saat bermain. Kami menerapkan formasi 4-4-3 dan 3-5-2, itu formasi yang terorganisir tapi bahayanya kami akan rentan pada serangan balik," kata Browaeys seperti dilansir The Guardian.
Perubahan formasi yang dilakukan oleh Sablon di tim muda Belgia lewat Browaeys diketahui 'menyadap' dari pola sepakbola negeri tetangga Belgia yang lebih maju, Belanda dan Prancis.
"Itu adalah pergeseran besar, tapi kami percaya saat itu bahwa pola 4-3-3 adalah formasi yang terkuat untuk pemain kami," kata Browaeys.
Browaeys dan Sablon percaya bahwa pemain Belgia bisa mengembangkan skill mereka dengan melakukan dribbling terlebih dahulu, membiasakan mereka untuk duel satu lawan satu,
"Anda harus menawarkan terlebih dahulu menggiring bola, dan membiarkan mereka bermain dengan bebas," kata Browaeys.
Hal ini yang juga bisa ditiru oleh para penanggung jawab prestasi sepakbola nasional. Harus ada keberanian dari para petinggi PSSI untuk mendobrak budaya formasi klasik di sepakbola di negeri ini.
Seperti yang kita ketahui, Timnas Indonesia kerap menerapkan formasi yang sama yakni 4-4-2 dan 4-3-2-1. Dua formasi ini memang jadi langganan Timnas Indonesia, bahkan Alfred Riedl baru-baru ini juga terapkan dua formasi itu ketika Indonesia melawan Malaysia beberapa waktu lalu.
Menurut asisten pelatih Timnas, Hans Peter Schaller, formasi hanyalah sebuah sistem.
"Tapi kuncinya terletak pada pemain apakah menggunakan formasi 4-4-2 atau 4-3-2-1. Formasi-formasi itu hanya Anda bisa lihat ketika awal pertandingan. Setelah itu mereka bergerak, kemungkinan besar kami akan menggunakan formasi 4-4-2," kata Schaller.
Namun jika melihat apa yang dilakukan oleh Sablon di Timnas Belgia, formasi tidak hanya sebuah sistem. Menurut Sablon yang menjadi direktur teknis Timnas Belgia pada 2001 lalu, akan ada filosofi bermain dan struktur yang jelas dari para pemain.