Warga Jakarta akan kembali menggelar sebuah hajatan demokrasi besar untuk memilih pemimpin baru mereka untuk periode lima tahun ke depan pada tanggal 17 Februari 2016 mendatang.
Sejak disahkan sebagai calon pemimpin Jakarta pada tanggal 25 Oktober 2016, dan dibukanya masa kampanye terbuka pada tanggal 28 Oktober 2016, ketiga pasang kontestan langsung bergerilya menarik simpati warga.
Salah satu caranya ialah dengan menyasar basis-basis komunitas yang dianggap bisa menjadi lumbung suara yang mampu mengantarkan mereka ke singgasana kepemimpinan ibu kota.
The Jakmania sebagai basis suporter sepakbola terbesar di ibu kota tak luput dari sasaran kampanye ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang sudah disahkan tersebut. Kebutuhan besar klub kebanggaan mereka, Persija Jakarta akan sarana stadion menjadi gula-gula manis yang ditawarkan oleh para kontestan.
Maklum saat ini, tim berjuluk Macan Kemayoran itu memang sedang kelimpungan dengan urusan stadion, pasca digusurnya Stadion Lebak Bulus, serta direnovasinya Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk kepentingan persiapan Asian Games.
Pemilik sembilan gelar juara di era Perserikatan PSSI itu kini harus menjadi 'musafir' dengan berpindah-pindah stadion saat menggelar laga kandang dalam kompetisi Torabika Soccer Championship 2016.
Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah benar dan sejauh mana basis masa suporter sepakbola memiliki pengaruh dan posisi tawar yang kuat dalam menyumbangkan perolehan suara bagi para kontestan pemilu? INDOSPORT coba mengkajinya kembali dalam ulasan singkat berikut.